Apa Jadinya Jika Aplikasi Populer Ada di Era Tahun 80-an -->

Advertisement

Apa Jadinya Jika Aplikasi Populer Ada di Era Tahun 80-an

Rumput & Kerikil
Jumat, 12 Juni 2020

Apa Jadinya Jika Aplikasi Populer Terlihat di Era Tahun 80-an

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Kita hidup di zaman digital yang memudahkan banyak hal saat ini. Nah sebelum teknologi semaju saat ini, pernahkah anda bertanya-tanya bagaimana tampilan aplikasi terkenal saat ini jika mereka ada di tahun 1980-an? Nah sesainer grafis bernama Luli Kibudi berhasil melakukannya! Seniman berusia 28 tahun asal Buenos Aires, Argentina, yang saat ini tinggal di Barcelona, ​​menciptakan karya yang disebut "Once Appon a Time" di mana ia menggambarkan aplikasi terkenal beberapa dekade yang lalu dan memberi mereka tampilan retro baru. Nah bagaimana tampilan aplikasi terkenal ini di masa lalu?

Luli Kibudi telah bekerja sebagai desainer grafis selama hampir 10 tahun sekarang. Bidang utamanya adalah industri pemasaran dan periklanan. “Saya belajar desain grafis dan melakukan beberapa program pemasaran dan pemrograman. Saya bekerja di desain editorial, pemasaran, biro iklan, dan merek, jadi saya merasa saya bisa belajar dan berpengalaman dalam desain grafis dari berbagai pendekatan.” 

Dia memiliki minat yang kuat dalam seni dan desain sehingga seri-nya sangat rinci dan dikerjakan dengan baik. Bahkan sulit untuk mengatakan bahwa hal-hal ini tidak ada pada 1980-an!

“Sejujurnya, saya baru saja melihat gambar Disket di internet dan muncul ide. Saya berpikir, 'Oh, iCloud di masa lalu.' Saya menggunakan waktu luang saya macet di rumah karena COVID-19 untuk mengerjakan proyek baru dan saya pikir akan menyenangkan untuk mengerjakan sesuatu seperti itu! Setelah saya menemukan konsep utama, saya mulai memikirkan semua elemen lain yang kami gunakan di masa muda saya dan mulai menghubungkannya dengan aplikasi yang kami gunakan hari ini. Saya menghabiskan 3 hari untuk berpikir tentang bagaimana memberi nama proyek, saya ingin memiliki nama semacam twist, sampai saya menemukan 'Once Appon a Time.' Jadi pada dasarnya itulah ide yang muncul di kepalaku! ” Kata Luli kepada Bored Panda.

Dalam proyeknya, Facebook adalah album foto yang sudah lama terlupakan, Microsoft Word adalah mesin tik retro, daftar pekerjaan LinkedIn, dan surat fisik Gmail. Seri ini memberikan nostalgia yang baik untuk masa lalu ketika orang biasa mencari pekerjaan di surat kabar, pergi ke kantor pos terdekat untuk mengirim surat fisik satu sama lainnya, dan memiliki foto fisik yang mereka simpan di album foto.

Ketika ditanya berapa lama baginya untuk membuat satu ilustrasi, dia berkata: "Itu tergantung pada kesederhanaan: yang saya menghabiskan lebih sedikit waktu adalah yang lebih sederhana, seperti Spotify dan Netflix (setengah jam). Yang lebih kompleks adalah Linkedin, Pinterest, dan Gmail, karena saya harus menghabiskan beberapa jam untuk memperbaiki mereka (3 jam).” Dia mengatakan bahwa dia menikmati membuat proyek ini karena dia dapat mendedikasikan waktu sebanyak yang dia inginkan. “Saya menikmati semua langkah: dari memikirkan aplikasi di masa lalu dan menghubungkannya dengan elemen retro hingga memperbaiki semua gambar dan melihat desain akhir!” Nah merasa pensaran dengan karyanya? Yuk kita lihat gambar-gambar berikut;

1. Youtube

Youtube

Siapa sih yang tek mengenal sosial media streaming video ini, Youtube sangat populer saat ini, nah sekarang bayangkan jika Youtube berada di tahun 80-an, seperti gambar diatas mungkin ya?

2. Microsoft Word

Microsoft Word

Ini aplikasi paling populer di perkantoran, tentu saja, siapa yang tidak tahu dengan Microsoft Word yang berfungsi untuk mengetik dokumen ini? Anak sekolahan, mahasiswa, dan semua yang berurusan dengan ketik-mengetik tentulah akrab dengan aplikasi yang satu ini. Tapi Microsoft Word dengan mesin ketik gimana tuh?

3. LinkedIn

LinkedIn

Ada begitu banyak pelamar kerja di LinkedIn, di era tahun 80-an para pelamar kerja yang memasang resume mereka seperti lembaran kertas koran di atas bukan?

4. Netflix

Netflix

Ini nih aplikasi film streaming yang meningkat pesat belakangan terakhir. Yah untungnya di era digital saat ini kita hanya butuh akses internet untuk menyaksikan video atau film. Kalau di tahun 1980 pastinya pakai kaset filem lah.

5. WhatsApp

WhatsApp

Walah, WhatsApp jika di tahun 1980 di jamin cuma bisa dengar suara doank, gak bisa chat apalagi video call, ya iyalah wong jaman dulu belum ada internet, jadi bertukar kabar cuma pakai telepon manual yang nomornya harus di putar-putar dulu biar bisa tersambung.

6. Pinterest

Pinterest

Ngepin gambar? Pinterest di tahun 80-an adalah mading alias majalah dinding! Bisa bebas mau ngepin apa aja, sobekan majalah, gambar, foto dari tabloid, macam-macam deh.

7. Gmail

Gmail

Unik ya jika sebuah pesan Gmail harus di antar kerumah sama pak pos plus pake prangko segala hihiih.

8. Wikipedia

Wikipedia

Bayangin aja jika harus jadi siswa atau mahasiswa jaman dulu yang mendapat tugas dari guru atau dosen mencari referensi di Wikipedia. Gak bisa browsing semudah sekarang lah, harus cari ke perpustakaan dulu, itupun jika bukunya masih gak pinjam orang hahaha.

9. Spotify

Spotify

Streaming musik? Deal jaman now mudah dilakukan, jaman dulu? Cukup masukkan kaset kedalam tape anda dan tekan tombol play, musik berjalan sampai kasetnya habis. Mudah seukali bukan? +_+

10. Facebook

Facebook

Facebook jaman dahulu mah gampang, cukup tinggalkan status diari, plus di isi gambar-gambar dalam album, nah kalau teman mau nulis komentar tinggal kasikan saja albumnya trus di tulis manual deh. Enaknya facebook jaman dulu dijamin aman, karena gak mudah di akses sama siapapun termasuk pihak intelejen yang selalu kepo sama pengguna sosial media hahaha.

Oke, demikianlah emosi muda, jika aplikasi populer saat ini ada di era tahun 80-an seperti diataslah tampaknya. Retronya kental abis, namun tetap saja mengingatkan kita tentang banyak hal yang bersifat kenangan yang gak mudah dilupakan. Tentang kehidupan sosial kita dimana teknologi belum terlalu menjajah kita seperti saat ini. Semoga menghibur dan Wassalamualaikum.

Gambar oleh Lili Kibudi untuk Bored Panda.