Berburu Meteorit: Para Petualang Yang Berharap Menjadi Kaya - Emosianisme
Update
Loading...

Senin, 25 November 2019

Berburu Meteorit: Para Petualang Yang Berharap Menjadi Kaya

Berburu meteorit: Para petualang yang berharap menjadi kaya

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Ada banyak cara menjadi kaya, dan beberapanya memang di luar kebiasaan, ini bukan kisah tentang mencari emas atau intan di perut bumi, bukan pula cara konvensional lainnya, ini adalah cara lain yang diharapkan untuk bisa menjadi kaya, yakni dengan menjadi pemburu meteorit! Ini adalah kisah dari para pemburu meteor dari negeri tirai bambu.


Berburu Batu Meteor

Sangat jarang menemukan Zhang Bo tanpa detektor logam, peta dan kendaraan off-roadnya. Berbasis di Shanghai, sebagai pemburu meteorit yang mendanai perburuannya sendiri, ia menghabiskan hari-harinya untuk meneliti penampakan meteor dan berkeliling dunia spesial untuk mencari fragmen batuan berharga yang sulit dipahami ini.

Zhang, 37 tahun, bisa dikatakan sangat sukses untuk seorang pemburu meteor tanpa pendidikan formal. Dia mulai meneliti meteorit setelah melihat bola api melintasi langit di Tiongkok selatan pada tahun 2009. Pada tahun 2012, ia mulai melakukan ekspedisi ke beberapa daerah yang paling tidak ramah di dunia, di antaranya Rusia, Prancis, Gurun Sahara, dan Xinjiang, ia cukup mempersenjatai dirinya dengan detektor logam untuk memindai tanah untuk melacak keberadaan batu meteorit.

Sejak saat itu, Zhang telah memplot banyak dari lokasi-lokasi pendaratan meteorit, dan telah membantu pihak berwenang Tiongkok menentukan ladang meteor terbesar di dunia, yang panjangnya mencapai 425 kilometer, berada di Altay, di wilayah Xinjiang.

Zhang mengatakan dia pergi ke Altay sekitar 20 kali sebelum menemukan sesuatu yang signifikan. "Sembilan dari sepuluh (kali), anda tidak dapat menemukan apa pun," katanya.

Pemburu meteorit Cina

Dengan dataran luas China dan daerah pegunungan adalah tempat perburuan populer bagi para penggemar meteorit lokal. Beberapa meteorit besi terbesar di dunia telah ditemukan di sana, termasuk di Altay di mana Zhang bersaing dengan pemburu lainnya untuk menemukan batuan berharga tersebut.

Bagian dari daya tarik perburuan ini adalah rasa petualangan. Mengakses ke daerah-daerah terpencil yang membutuhkan peralatan dan perencanaan yang serius pula serta bersamaan dengan itu muncul sensasi untuk menemukan sesuatu yang mendorong maju pemahaman sains tentang tata surya.

Sebagai contoh, para ilmuwan menemukan bahan organik yang terkait dengan air - asal usul kehidupan - dalam meteor "Zag & Monahans" yang menghantam Texas dan Maroko pada tahun 1998, meningkatkan kemungkinan adanya keberadaan senyawa organik kompleks di ruang angkasa.

Zhang Bo melakukan perburuan meteorit di wilayah Xinjiang, pada tahun 2016
Zhang Bo melakukan perburuan meteorit di wilayah Xinjiang, pada tahun 2016. Kredit: Zhang Bo.

Namun, bagi banyak pemburu meteor, motivasinya jauh lebih mendasar yakni karena "Uang". Setelah bola api besar terlihat melayang di langit dekat perbatasan Myanmar dan Laos pada tahun 2018, para pemburu meteorit berlomba ke wilayah itu, mempersenjatai diri dengan detektor logam mereka dengan harapan untuk menemukan batu meteor yang bisa membuat mereka kaya raya.

Konfirmasi tentang sekitar 200 meteorit menghujani sebuah desa kecil di negara Menghai, Xishuangbanna, di China, yang berbatasan dengan dua negara Asia Tenggara telah mempromosikan desakan sedemikian rupa sehingga pemerintah setempat mengeluarkan pemberitahuan yang menyerukan agar masyarakat tetap tenang.

"Tolong lihatlah dengan rasio kejatuhan meteorit itu. Jangan membabi buta ingin mencapai tujuan menjadi kaya dalam semalam dengan menemukan meteorit. Kehidupan yang baik perlu diciptakan dengan upaya dan dedikasi anda sendiri. Perlakukanlah itu secara rasional," kata pemerintah Tiongkok.

Beberapa hari setelah penampakan bola api tersebut, diduga meteorit tersebut telah diiklankan secara online seharga 50.000 RMB (Renminbi China)  atau seharga $ 7.800 per gram atau lebih dari 100 juta rupiah per gramnya.

Xu Weibiao, seorang ahli meteorit dari Purple Mountain Observatory (PMO) di Nanjing, mengatakan bahwa meteorit dapat dijual lebih mahal dari itu, di atas $ 10.000 per gram.

"Kelangkaan meteorit menentukan nilai pasarnya," kata Xu. "Kecuali orang-orang yang benar-benar tahu meteorit dan kekhususannya, sebagian besar pembeli adalah orang biasa dan meteorit mereka palsu."

Lahirnya obsesi

Menurut NASA, sekitar 44 ton material meteorit jatuh ke Bumi setiap harinya. Sebagian besar terbakar habis di atmosfer, tetapi beberapanya selamat dan mendarat di tempat-tempat tak terduga. Pada akhir Juli, misalnya, sebuah meteorit yang diduga memiliki ukuran yang sama dengan sebuah bola mendarat di sebuah sawah di India timur.

Tidak ada kasus meteor yang dikonfirmasi telah membunuh manusia tetapi International Comet Quarterly melacak potensi berbahaya itu nyaris di temui, dan dalam banyak kesempatan meteorit telah menabrak rumah atau mobil.

Zhang Bo memburu meteorit di Xinjiang, pada tahun 2016
Zhang Bo memburu meteorit di Xinjiang, pada tahun 2016. Kredit: Zhang Bo

Obsesi Zhang sendiri dengan meteorit dimulai pada tahun 2009. Saat dia sedang berlibur bersepeda di sekitar resor di pulau Hainan - Cina ketika dia melihat bola api menyerempet langit malam yang terlihat dari ibukota, Sanya, ke Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan.

Pada saat itu, dia bekerja di bisnis perhiasan keluarganya. Namun ketertarikannya pada meteorit segera mengambil alih. Zhang pun mulai belajar. Pertama di internet dan di perpustakaan, kemudian dengan mengetuk pintu Purple Mountain Observatory (PMO) di Nanjing, 300 kilometer di timur Shanghai.

Didirikan dari bekas Institut Astronomi pada tahun 1928, hari ini PMO adalah pusat penelitian objek luar angkasa China, tempat para ahli, seperti Xu, memeriksa meteorit yang dibawa oleh para pemburu, seperti Zhang, untuk diverifikasi. Pada awalnya, Zhang membawakan pada mereka meteorit yang telah dia beli atau ia temukan untuk pengujian. Di PMO, ia bertemu Xu dan keduanya menjadi teman, bertukar pesan dan informasi tentang meteorit.

Ketika mengevaluasi meteorit, para ahli mencari dua fitur yang memisahkan meteor dari batu biasa, yakni: kerak fusi dan regmaglypts. Dan itu adalah semacam lubang, atau garis aliran tipis di permukaan meteorit yang tercipta oleh gesekan saat meteor terbakar melewati atmosfer.

Kerak fusi, di sisi lain, adalah mantel berwarna gelap yang melilit meteorit. Ketika sebuah meteorit bergerak melalui atmosfer menyebabkan udara di sekitarnya menjadi tertekan. Udara terkompresi memiliki suhu tinggi yang melelehkan lapisan luar meteorit. Ketika melambat ke titik di mana tidak ada lelehan lagi terjadi, lapisan itu kemudian mendingin dan membentuk kerak fusi.

Menurut Xu, butiran debu adalah elemen yang paling berharga dari meteorit manapun. Isotop yang berbeda dalam unsur-unsur kimia dari butir debu mengandung informasi tentang bagaimana bintang berevolusi.

Obsesi Zhang

Zhang mengatakan bahwa dia membuat penemuan paling signifikan pada musim panas tahun 2016. Setelah mendengar tentang sebuah meteorit besar yang ditemukan di Altay, dia mengemas perbekalan di dalam mobil SUV miliknya dengan detektor logam, sekop, tenda, dan persediaan yang cukup untuk menopangnya selama dua minggu di salah satu daerah daerah terpencil di sudut dunia.

Zhang Bo mencari meteorit di Xinjiang, pada tahun 2016
Zhang Bo mencari meteorit di Xinjiang, pada tahun 2016. Kredit: Zhang Bo

Terletak Xinjiang, berbatasan dengan Mongolia dan Kazakhstan di Asia Tengah. Wilayah ini membutuhkan 7,5 jam perjalanan dari kota terdekat. Zhang ingin mengunjungi situs meteorit yang telah dia baca di dalam jurnal, termasuk yang telah ditemukan oleh para gembala di Gurun Gobi lebih dari seabad yang lalu.

Dijuluki "Unta Perak," batu besar berwarna perak itu diperkirakan telah jatuh ke bumi pada tahun 1898. Beratnya 28 ton dan merupakan meteorit besi terbesar keempat di dunia yang diketahui saat ini. Hari ini, meteor tersebut berada di Museum Geologi dan Mineral Xinjiang.

Zhang juga mencari meteorit lain yang terkait, di juluki dengan "Air Mata Tuhan," meteorit besi dengan berat hampir 18 ton. Itu ditemukan di Altay pada tahun 1986 oleh seorang gembala yang dilaporkan telah menjaganya selama 25 tahun sampai pejabat pemerintah daerah datang dengan alat berat pada tahun 2011 untuk membawa benda itu pergi.

Pada tahun 2017, gembala tersebut dilaporkan berusaha untuk mengklaim kepemilikan batu tersebut kepada pengadilan pemerintah daerah. Meteorit yang disebut "Akebulake," di penuhi "beberapa coretan-coretan dan potongan," dan para pejabat memindahkannya ke balai kota setempat untuk melindunginya dari kerusakan lebih lanjut, demikian menurut catatan resmi.

Jenis meteorit besi tersusun hampir seluruhnya dari paduan nikel - besi. Jenis ini menyumbang kurang dari 5% dari meteor yang diamati telah jatuh, tetapi beratnya bisa jauh lebih berat dari batuan normal serta bagian luar logam yang mengkilap berarti jenis ini lebih mudah diidentifikasi sebagai meteorit.

Zhang Bo mencari meteorit di Altay, pada tahun 2016. Kredit: Zhang Bo
Zhang Bo mencari kepingan dari sebuah meteorit besi besar dengan berat hampir 18 ton yang ditemukan di Altay pada tahun 1986.

Sebagian besar meteorit besi diperkirakan berasal dari inti asteroid besar yang meluncur di sekitar sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter, sekitar 400 juta kilometer dari Matahari. Asteroid itu dianggap sebagai sisa-sisa penciptaan tata surya kita di sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, itulah sebabnya mereka sangat berharga, dan sangat penting untuk penelitian ilmiah tentang asal usul awal kita.

Selama perjalanannya ke Altay, Zhang dengan cermat mencatat koordinat meteorit yang ditemukan memiliki komposisi kimia yang sama dengan "Unta Perak" dan "Air Mata Tuhan."

Zhang mengatakan temuannya menunjukkan bahwa kesalahan telah dibuat dalam catatan resmi yang ada. Dengan menggunakan informasinya, para ilmuwan dapat menetapkan bahwa medan meteor di Altay membentang sepanjang 425 kilometer dari Cina ke Mongolia, menjadikannya bidang meteorit terbesar di dunia.

Sebelumnya, ladang meteorit terbesar di dunia telah ditemukan di Gibeon, Namibia, membentang 275 kilometer ke selatan dimana "Hoba," ditemukan, ini adalah meteorit besi terbesar di dunia yang ditemukan pada 1920 oleh seorang petani. "Hoba" memiliki berat 60 ton dan, karena ukurannya yang besar, meteor ini tidak pernah bisa dipindahkan dari tempat awal menabrak Bumi di sekitar 80.000 tahun yang lalu.

Item Yang Menggiurkan

Zhang tidak akan mengungkapkan detail pribadi tentang kliennya, tetapi dia mengatakan bahwa mereka membayar antara $ 100.000 (1.4 Milyar rupiah) hingga $ 1.000.000 (14 Milyar rupiah) untuk jenis batu meteor langka. Meteorit juga mendapatkan harga tinggi di pelelangan.

Spesimen meteorit ditampilkan di ruang pamer di Urumqi, di Xinjiang
Spesimen meteorit ditampilkan di ruang pamer di Urumqi, Xinjiang, pada 19 September 2014. Kredit: GOH CHAI HIN / AFP / Getty Images

Penjualan meteor terbaru oleh rumah lelang Inggris Christie's, dijuluki "Deep Impact," mengumpulkan lebih dari $ 800.000 pada bulan Februari 2019. Item besar lainnya adalah Campo del Cielo ("Lembah Langit"), sebuah meteorit yang diduga terbentuk dari tabrakan kosmik dua asteroid yang mengirimkan pecahan-pecahannya meluncur ke bumi sekitar 4.000 tahun yang lalu dan benda tersebut dijual seharga $ 275.000, naik dari perkiraan sebelumnya di harga $ 60.000.

Meteorit paling mahal yang pernah dijual di lelang adalah meteorit Lunar yang dijual pada tahun 2018 oleh perusahaan Boston RR Auction, yang berharga $ 612.500. Meteorit ini dikenal dengan nama"Puzzle Bulan" karena benda itu berasal dari Bulan dan terdiri dari enam fragmen yang membentuknya. Batu meteor itu ditemukan pada tahun 2017 di Mauritania, tetapi diyakini telah mendarat pada ribuan tahun yang lalu, setelah dilemparkan dari permukaan Bulan oleh serangan meteorit lainnya.

Zhang mengatakan dia tidak berburu meteorit karena uang, tetapi demi membuat kontribusi untuk sains dan pendidikan. Sejauh ini, perjalanannya telah membawanya dari Kawah Barringer di Gurun Arizona ke Henbury Meteorites Conservation Reserve di Australia. Dia bilang dia akan pergi ke mana pun saja untuk menemukan meteorit yang telah menjadi obsesinya.

Nah emosi muda, mungkin setelah membaca postingan ini, akan ada banyak orang yang berharap menemukan batu meteor yang bisa dihargai dengan uang milyaran rupiah, so ingin berburu meteorit juga? Ingin mencari jarum dalam tumpukan jerami? Anda tidak sendiri, di nusantara ada banyak para pemburu benda langka dengan impian yang sama yakni menjadi kaya mendadak, sayangnya hanya ada sedikit saja yang benar-benar berhasil. Tapi tak apalah menjadi pemburu meteor ketimbang mendatangi pesugihan untuk kekayaan, jika anda turut berminat menjadi pemburu meteor, saya ucapkan semoga anda sukses. Sekian, terimakasih dan Wassalamualaikum.

Tulisan resmi versi english oleh Nanlin Fang untuk CNN
Komentar

Jika anda menemukan postingan ini menarik atau anda menemukan link error harap berikan komentar anda di bawah ini. Terimakasih.
EmoticonEmoticon

Notifikasi
Jangan lupa untuk berlangganan untuk mendapatkan update terbaru.
Tutup