Musuhku Tetanggaku (Sunni VS Alawite)

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Konflik dan ketegangan akibat politik seringkali memicu pertumpahan darah, memecah belah suatu negeri dan terlebih lagi jika konflik tersebut memiliki akar sejarah dengan masalah yang belum terselesaikan. Semuanya terkait erat dengan kondisi ketidakadilan, kesulitan ekonomi, pemerintahan korup serta bias dari ketidakseimbangan sistem. Demikianlah yang terjadi di sebuah negara yang bernama Libanon, dimana konflik sektarian antara muslim versus syiah nushairiyah (alawite) terjadi selama dalam rentang waktu yang begitu lama, provokasi partai politik yang memicu perang, pembunuhan, penyerangan dari rumah ke rumah dengan jarak yang begitu dekat antar tetangga yang berbeda keyakinan dan di dorong oleh konflik lain yang terjadi di negara luar telah berhasil membuat salah satu bagian negara ini sebagai tempat dengan keadaan yang sangat tidak stabil. Disini orang-orang memegang senjata api untuk melindungi diri dan keluarga mereka, disini pula sekitar 27% muslim bertahan dari tekanan partai Arab Democratic Party (ADP) dan milisi bersenjata Syiah lainnya.

Perang jarak dekat yang hanya dipisahkan oleh sebuah jalan
“Orang-orang terbiasa dengan berperang. Selama pertempuran terakhir, anak-anak masih datang untuk bermain. Dapatkah anda bayangkan, seorang anak lelaki berusia tujuh tahun berlari diantara peluru hanya untuk bermain video game,” kata Mohammad Darwish, pemilik salah satu warung internet di Tripoli, seorang lelaki berwajah tenang dengan jenggot melengkung yang membingkai wajahnya.

Duduk di belakang meja warnetnya, yang terletak di salah satu jalan utama di lingkungan Bab Al-Tabbaneh di kota Lebanon utara ini, Darwish mengatakan bahwa pelanggan mudanya telah mengundurkan diri karena konflik bersenjata yang terus berlangsung.

Terlepas dari usia mereka, mereka cukup yakin bahwa bentrokan yang telah menjadi rutinitas di sini selama enam tahun terakhir akan meletus lagi cepat atau lambat. Bahkan ketika masa tenang, bangunan-bangunan yang terkelupas dan penuh peluru di Tabbaneh berdiri sebagai pengingat akan bentrokan sebelumnya. Disini Bendera dan poster Negara Islam (ISIS) dapat dilihat dipajang di rumah-rumah dan toko-toko.

"Saya mendukung IS [Negara Islam] dan [yang berafiliasi dengan Al-Qaeda] Jabhat Al-Nusra (JN)", kata Hassan yang berusia 19 tahun seorang pengangguran sambil tersenyum, menjelaskan bahwa ia berpikir IS akan memberinya hak "untuk memiliki sebuah pekerjaan, untuk hidup dengan damai sesuai dengan ajaran Islam, untuk bergerak bebas."

Tabbaneh mungkin adalah lingkungan yang paling sulit untuk tumbuh di seluruh Tripoli. Meskipun merupakan kota terbesar kedua di Lebanon, berada hampir 80 kilometer sebelah utara Beirut, pengabaian kebijakan oleh pemerintah pusat telah menyebabkan kota yang berpenduduk mayoritas Sunni ini menderita kemiskinan yang mengkhawatirkan, pengangguran dan pengucilan sosial, dan Tabbaneh adalah salah satu daerah termiskin dan paling terpinggirkan.

Tujuh puluh enam persen penduduk Tabbaneh hidup di bawah garis kemiskinan, menurut sebuah studi tentang 'Kemiskinan Perkotaan di Tripoli', yang diterbitkan pada 2012 oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA).

Keadaan ini, diperburuk oleh eksploitasi politik sektarianisme dalam masyarakat yang sangat konservatif, telah memicu putaran kekerasan yang sering terjadi, terutama antara warga muslim Tabbaneh dan lingkungan syiah alawit di Jabal Mohsen.

Musuhku Tetanggaku (Sunni VS Alawite)
Sebuah bangunan rumah mandapat serangan keras dari tetangga bersebelahan jalan.

Kedua lingkungan hanya dipisahkan oleh satu jalan, penduduk Bab Al-Tabbaneh sebagian besar adalah muslim Sunni (Ahlus Sunnah), sebagian besar penduduk Jabal Mohsen adalah orang Alawit (Syiah Nushairiyah atau sekte yang sama dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad).

Sektarianisme ini telah menjadi persaingan ketat yang dimulai sejak pendudukan Suriah di Lebanon yang dimulai pada tahun 1976 dan berakhir pada tahun 2005, tetapi telah berubah menjadi kekerasan lagi sejak tahun 2008, dan terutama sejak awal perang saudara Suriah pada tahun 2011. Selama tiga tahun terakhir, lebih dari 20 ronde pertempuran telah pecah di Tripoli, kebanyakan adalah bentrok antara milisi muslim Tabbaneh dan milisi Alawit Mohsen.

“Kami berjuang untuk membela rakyat kami, untuk mencapai perdamaian,” kata Khaled yang berusia 19 tahun, yang biasanya bekerja di toko roti tetapi juga seorang milisi lokal. Tetapi Ahmad, yang seusia dengannya merasa skeptis: "Orang-orang bertempur karena mereka tidak punya uang atau pekerjaan."

Ahmad sedang mempelajari teknik engineering, berkat hibah yang diberikan oleh Ruwwad Al Tanmeya, sebuah LSM regional yang bekerja di daerah tersebut melalui aktivisme kaum muda, untuk keterlibatan masyarakat dan pendidikan. Karena ayahnya bertugas di ketentaraan, negara membayar sebagian besar biaya sekolahnya ketika dia masih muda dan dia bisa belajar di sekolah swasta di luar Tabbaneh.

Musuhku Tetanggaku (Sunni VS Alawite)

Hoda Al-Rifai, seorang perwira pemuda Ruwwad setuju dengan Ahmad: “Banyak keluarga tidak memiliki penghasilan. Setiap kali konflik dimulai, para pejuang dibayar. Dan para pejuang ini juga memberikan uang kepada anak-anak untuk memenuhi tugas tertentu. Mereka bisa mendapat tiga dolar sehari (Sekitar Rp. 45.000) dan ini lebih baik daripada pergi ke sekolah. Orang tua mereka juga berpikir seperti ini.”

Stereotip juga berkontribusi untuk mempersulit meraih masa depan bagi pemuda Tabbaneh, termasuk mencari pekerjaan di luar lingkungan dan itu membentuk kepribadian mereka. Ketika mereka memulai karir, para pemuda tidak memiliki rasa percaya diri. Karena media yang ada tidak menghasilkan gambar lingkungan ini sebagai area di mana anda dapat menemukan pria muda yang cerdas, yang mau belajar. Mereka hanya menggarisbawahi bentrokan dan segala macam hal negatif. Media memperkeruh keadaan dengan provokasi yang mencederai keadilan.

"Tidak ada anggota Jabhat Nusra atau ISIS di sini," Kata Darwish untuk www.ipsnews.net, ia menambahkan bahwa banyak orang di Tabbaneh melihat bendera ISIS hanya sebagai cara untuk menunjukkan ketidakpuasan atas pengabaian pemerintah terhadap komunitas Sunni dan khususnya di Tabbaneh.

“Ini bukan konflik agama tetapi politik. Ketika politisi ingin mengirim pesan satu sama lain, mereka membayar untuk bentrokan di sini,” tambah bibi Darwish yang berusia 49 tahun, berjilbab dan berpakaian serba hitam. "Di kota ini, anda dapat memberikan 20 dolar kepada seorang anak lelaki sehingga ia bisa memulai perang," jelas Darwish.

Akar Konflik
Konflik Bab al-Tabbaneh-Jabal Mohsen adalah konflik berulang antara Muslim Sunni penduduk Bab-al-Tibbaneh dan Syiah Alawite warga lingkungan Jabal Mohsen di Tripoli, Lebanon. Warga kedua lingkungan telah terlibat dalam pertarungan sejak Perang Saudara Lebanon, dan sering terlibat dalam kekerasan. Mereka terbagi menurut garis keyakinan, serta oleh oposisi mereka, atau atau dukungan dari pemerintah Suriah yang dipimpin Alawit. Kekerasan berkobar selama perang saudara Suriah di Lebanon.

Muslim Sunni dan Alawit telah berselisih satu sama lain selama berabad-abad. Orang-orang Alawi dari Levant mendapat tekanan pada zaman Kekhalifahan Turki Ustmaniyah, kelompok Syiah Nushairiyah ini kemudian memperoleh kekuasaan dan pengaruh ketika Prancis merekrut orang Alawi sebagai tentara mereka selama Mandat Prancis di Suriah. Setelah merdeka dari Perancis, rekan seagama mereka berkuasa di Suriah pada tahun 1966 (diwakili oleh keluarga al-Assad sejak 1970). Ini membuat ketimpangan mayoritas Sunni di Suriah, yang bereaksi dengan pemberontakan Islam di Suriah.

Dengan sekitar 500.000 penduduk, Tripoli adalah kota terbesar kedua di Lebanon setelah Beirut. Karena sebagian besar dari penduduknya adalah Muslim Sunni, kota ini dianggap sebagai benteng kaum Sunni konservatif di Lebanon. Secara umum, Sunni mewakili 27% dari seluruh populasi Lebanon. Menjadi basis Sunni, semua arus utama Islamisme Sunni Lebanon telah berpusat di kota ini. Spanduk-spanduk hitam dengan tulisan-tulisan islami merambah jalan-jalan dan lusinan sekolah keagamaan gratis mengajarkan islam dan banyak wanita terlihat memakai "Niqab." Tripoli juga merupakan tempat kelahiran Gerakan salafi Lebanon. Umat islam Bab al-Tabbaneh dan seluruh Lebanon memiliki hubungan dekat dengan Arab Saudi yang mendukung mereka secara finansial. Gerakan muslim di libanon adalah respon atas ketidakadilan yang dirasakan umat islam di Libanon.

Hampir setengah dari Syiah Alawi Lebanon terletak di Jabal Mohsen, Tripoli dan desa-desa terdekat di Akkar, Lebanon utara. Sekitar 40.000-60.000 orang Alawit tinggal di Tripoli, dan seluruh populasi mereka di Libanon paling banyak adalah sekitar 120.000 jiwa. Mereka memiliki hubungan dekat dengan sekte Alawite di Suriah, termasuk keluarga Assad yang berkuasa. Otomatis hal ini membawa efek semakin tingginya perseteruan dari masing-masing pihak pendukung, kelompok alawite memajang foto-foto Bashar Al-Assad sebagai tanda dukungan, dimana kelompok muslim memajang poster dan spanduk kontra Bashar Al-Assad.

Dua lingkungan bertetangga ini dibagi oleh Syria Street, Jabal Mohsen berdiri di puncak bukit, Bab al-Tabbaneh berdiri di bawahnya. Banyak penduduk di kedua lingkungan tersebut menganggur, yang membuat mereka mudah dimobilisasi ketika bentrokan meletus. Lebanon Utara adalah salah satu bagian Lebanon yang paling miskin dan diabaikan oleh pemerintah, sehingga memberi ruang bagi konflik untuk tumbuh. Lingkungan itu dulunya cukup makmur hingga banjir Nahr Abu Ali (sungai Abou-Ali) pada tahun 1956 menghancurkan sebagian banyak dari bangunan, yang diikuti kemudian oleh perang saudara. Namun masih banyak juga warisan arsitektur yang tersisa di daerah tersebut.

Musuhku Tetanggaku (Sunni VS Alawite)

Selama perang saudara lebanon yang berlangsung dari tahun 1975 hingga 1990, orang-orang Lebanon Alawit di Partai Demokrasi Arab (ADP) yang berbasis di Jabal-Mohsen bersekutu dengan Suriah, berperang bersama Tentara Suriah melawan Gerakan Tauhid Islam Sunni di Tripoli, yang sebagian besar berbasis di Bab Tabbaneh. Sebelum perang, populasi kedua lingkungan itu terjalin cukup baik, mereka pernah bertetangga dengan keramahan dan saling bertegur sapa.

Pada bulan Agustus 1984, bentrokan meletus antara kelompok Tauhid Libanon versus ADP. Posisi Tauhid diperkuat ketika mereka berhasil menguasai wilayah pelabuhan pada 22 Agustus, setelah pertempuran sengit di jalan-jalan Tripoli yang menewaskan lebih dari 400 orang. Pertempuran jalanan berlangsung selama beberapa hari hingga 18 September, ketika perang berakhir dengan perjanjian damai yang dimediasi Suriah antara IUM dan ADP. Pada 1985, Tauhid memiliki kendali atas Tripoli, dan ADP bercokol di Jabal Mohsen.

Pada tanggal 18 Desember 1986, komandan Tauhid Samir al-Hassan ditangkap oleh orang-orang Suriah di Tripoli. Orang-orangnya merespons dengan membunuh 15 tentara Suriah di sebuah pos pemeriksaan, yang menyebabkan kemarahan Suriah terhadap kelompok Tauhid. Dibantu oleh milisi ADP, LCP, SSNP, dan Partai Baath, orang-orang Suriah berhasil mengalahkan Tauhid, membunuh banyak pejuang mujahidin, menangkap yang lain dan menghancurkan sisanya. Akar sejarah kekerasan, ketidakadilan, provokasi media dan pengabaian pemerintah terhadap muslim inilah yang menjadi akar dari konflik berkepanjangan. Berikut keadaan detil dalam sebuah video yang saya sertakan dibawah.




Beranjak dari permasalahan di atas, kita bisa dengan jelas menyaksikan bagaimana kekerasan bisa dengan mudahnya muncul akibat efek dari kegagalan pemerintah. Disini media berperan penting dalam menghancurkan tatanan masyarakat. Provokasi media dengan menjadikan beberapa kelompok masyrakat sebagai kelompok negatif bisa mendapat respon seperti bom waktu yang siap meledak. Belum lagi kemiskinan yang merajalela membuat keadaan semakin memburuk. Perang memang selalu menyedihkan, menimbulkan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit serta menghambat pertumbuhan dan kemakmuran sebuah negara, namun perlu digarisbawahi semua peperangan di dunia ini seringkali di awali dari kebusukan sistem politik, kesenjangan yang jauh dan provokasi. Sementara ini kita sering juga melihat provokasi media dinegara kita yang mencederai tata krama jurnalistik, jika kita mau berkaca pada apa yang menimpa di Libanon, maka duri-duri kerusakan yang dibawa oleh media curang ini bisa menjadi borok pertumbuhan pemerintahan yang sedang berkembang. Disini kita dituntut lebih bijak untuk bisa memfilter setiap informasi yang masuk dan berkembang di dalam masyarakat, untuk mencegah negara yang kita cintai ini jatuh ke dalam lubang yang sama seperti apa yang terjadi di Libanon. Semoga anda berfikir dan Wassalamualaikum.

Posting Komentar