Menciptakan "Sesuatu" Dari Pikiran Kita

Menciptakan "Sesuatu" Dari Pikiran Kita

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Visualisasi merupakan cara umum untuk menggambarkan bentuk di dalam pikiran. Tehnik ini sangat umum di temui di dalam berbagai konsep keyakinan dan perguruan kebatinan. Visualisasi di anggap bisa dijadikan sebagai media untuk berhubungan dengan apa yang digambarkan dalam pikiran. Ada banyak jenis meditasi yang memvisualisasikan benda atau objek tertentu, misal meditasi budhist yang memvisualisasikan tanah, api atau air dan rupang Budha itu sendiri.

Di dalam hindusime ada tata cara visualisasi pada titik-titik cakra tertentu di berbagai bagian tubuh untuk membangkitkan kekuatan dan memasuki maqam hening, termasuk juga di dalam aliran sufisme tarekat saat melakukan zikir-zikir tertentu memvisualisasikan nama-nama tertentu pada titik-titik tertentu pula pada tubuh yang sering disebut sebagai titik lathifah, atau malah ada yang memvisualisasikan sang guru (mursyid) saat sholat yang disebut sholat rabithah. Dari dari semua hal diatas, muncul semua sebuah pertanyaan, mungkinkah apa yang di visualisasikan itu bisa muncul dan nyata dalam artian harfiah? Mungkin kita akan menemukan sebuah jawaban samar-samar dari sebuah konsep yang disebut dengan Tulpa.

Tulpa: Sebuah Cara Memunculkan Sesuatu Dari Pikiran Manusia
Konsep Tulpa telah dimulai selama berabad-abad yang lalu dalam budaya dan kepercayaan umat Buddha Tibet. Dan di dunia saat ini, Tulpa dianggap sebagai makhluk atau entitas yang diciptakan dan didorong oleh kekuatan dari imajinasi manusia. Terdengar aneh bukan? Tentu saja itu sangat aneh! Lantas bagaimana entitas ini bisa muncul dan menjadi nyata? Jika anda memusatkan perhatian pada gambar tertentu, katakanlah, dengan sebuah argumen, anda membayangkan seekor beruang bermata sipit, lucu, bersayap, dan anda dapat memberikan beberapa kemiripan realitas dan akhirnya, makhluk dalam pikiran anda itu menjadi eksis dan independen. Anda berbaring di tempat tidur pada larut malam, atau kapan dan di mana anda tidak akan terganggu, kemudian anda fokus dengan penuh perhatian pada monster pilihan legendaris anda. Anda dengan teliti memvisualisasikan bentuknya, sayap-sayap besar, wajahnya yang garang, dan jari tangannya yang bercakar. Mungkin, anda bahkan memberikannya ekor yang panjang dan kuat seperti ekor setan.

Anda mungkin fokus menciptakan sosok imajiner yang indah atau pada gambaran seekor hewan buas yang terbang tinggi di atas kota anda sendiri di tengah malam. Dan, anda terus mengulangi proses itu malam demi malam, minggu demi minggu, dan bahkan mungkin bulan demi bulan. Anda bahkan menggunakan teknik meditasi untuk memungkinkan anda memasuki kondisi pikiran yang berubah, yang akan semakin memperkuat pencitraan tersebut. Dan kemudian, di suatu hari, makhluk yang anda gambarkan itu tiba-tiba mulai muncul di kota anda tentang apa yang terdengar seperti binatang buas yang telah anda fokuskan secara mendalam pada kedalaman pikiran dan imajinasi anda. Intinya, Anda telah berhasil membuat seekor monster hanya dengan semata-mata memikirkannya lantas menjadi ada dan nyata. Tidak, monster itu bukan dari jenis daging dan darah, tetapi monster itu hidup dan berkembang dengan baik. Dan, anda bertanggung jawab untuk itu. Entitas yang sepenuhnya fiksi sekarang aktif dan hidup di dunia anda dan dunia kita. Inilah yang disebut dengan Tulpa.

Tulpa adalah entitas yang diciptakan dalam pikiran, bertindak secara independen, dan sejajar dengan kesadaran anda sendiri. Mereka mampu berpikir, dan memiliki kehendak bebas, emosi, dan ingatan sendiri. Singkatnya, tulpa seperti sesuatu yang hidup di kepala anda, terpisah dari diri anda. Butuh waktu bagi tulpa untuk mengembangkan kepribadian yang meyakinkan dan kompleks, dan seiring bertambahnya usia, perhatian dan pengalaman hidup mereka akan membentuk mereka menjadi seseorang dengan harapan, impian, dan kepercayaan mereka sendiri.

Banyak orang membuat tulpa dengan membayangkan seseorang di dalam pkiran mereka, dan memperlakukannya sangat pribadi. Mekanisme pastinya tidak diketahui, tetapi ketika seseorang memberikan perhatian pada tulpa, dan percaya bahwa makhluk itu bisa menjadi sesuatu yang hidup, maka ada sesuatu yang akan bertindak untuk menjadikannya tumbuh berkembang, dan bertindak secara independen dari anda. Pada awalnya, orang yang membuat Tulpa akan berbicara dengan Tulpanya, dan memvisualisasikannya dalam pikiran, seiring waktu, mereka akan dapat berkomunikasi melalui berbagai metode.

Ketika tulpa mulai berbicara, itu tidak berarti bahwa mereka telah sempurna. Tulpa tidak akan pernah "selesai", ketika seseorang membuatnya. Mereka akan fokus pada memelihara dan mengajar tulpa milik mereka, dan membiarkan mereka tumbuh sebagai teman pribadi bersama mereka. Dibutuhkan waktu dan upaya untuk menjadikan tulpa sebagai individu yang seimbang, dan kemandirian serta kepribadian mereka akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu, seperti halnya manusia biasa. Menciptakan tulpa berarti berkomitmen untuk membesarkan dan hidup dengan orang lain, dan ini adalah komitmen seumur hidup dan bukan komitmen yang berakhir ketika tulpa mulai muncul dan berinteraksi.

Hampir setiap tulpa memiliki bentuk tubuh imajiner yang diidentifikasi oleh pikiran pembuatnya. Bentuk ini bisa berupa apa saja, dari manusia biasa hingga karakter kartun, binatang, atau apa pun yang dapat dibayangkan. Tentu saja, terlepas dari bentuknya, mereka memiliki pikiran juga. Pemilik Tulpa dapat berinteraksi dengan bentuk tulpanya hanya dengan memvisualisasikannya dalam pikiran. Sebagian besar orang melakukan ini dalam lingkungan imajiner yang disebut dunia atau alam wonderland, yang merupakan tempat yang menakjubkan yang dibayangkan untuk diri mereka dan tulpa mereka sendiri. Mereka dapat mengubah dunia Wonderland bayangan mereka sesuka hati, dan menjadikannya sebagai hal normal atau fantastik seperti yang di inginkan, tidak ada batasan untuk menciptakan sesuatu dalam imajinasi.

Banyak pengguna Tulpa berkomitmen pada prosesnya, dan menaruh banyak waktu dan upaya dan akan berakhir dengan menjadi teman mereka seumur hidup. Mereka akan memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian tulpa, dan akan mudah untuk memahaminya, dan mudah juga bagi Tulpa untuk memahami pembuatnya dan bahkan menjamin persahabatan yang sangat dekat. Mengenal tulpa akan mengajarkan penggunanya dengan pelajaran memberi empati dan memberi wawasan tentang kepribadian dan pikiran mereka sendiri. Tulpa dapat memberi opini alternatif tentang masalah yang di miliki, mendukung secara emosional, dan memberi tahu ketika ada hal yang bodoh. Koneksi antara host (pembuat Tulpa) dan Tulpa itu sendiri adalah sangat kuat dan intim, dan akan selalu ada teman untuk diajak bicara, tetapi hanya ada di dalam pikiran saja.

Apa Dan Siapa Dibalik Kemunculan Tulpa Ini?
Ada banyak alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Dan pastinya jawaban yang ada cenderung mengarah kepada hal-hal kepada unsur psikologis, ini mungkin lebih mirip dengan kisah anak-anak kecil yang memiliki teman imajiner atau memang ada sesuatu yang lain yang berkontribusi. Yuk mari kita bahasa dibawah:

Efek Psikologi

1. Teman Khayalan.
Banyak orang tua yang cemas bertanya-tanya, "Apakah teman khayalan anak-anak mereka merupakan pertanda kesepian atau masalah sosial?"

Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah artikel di Science Friday mencatat ini: “Secara historis, banyak peneliti dan orang tua berpikir bahwa teman khayalan adalah berbahaya atau jahat, dan merupakan tanda defisit sosial, kerasukan setan, atau penyakit mental. Misalnya, di Laboratorium Pengetahuan dalam Pengembangan Universitas Alabama, seorang psikolog bernama Ansley Gilpin baru-baru ini mendengar kasus di mana orang tua mengira putrinya mungkin menderita skizofrenia. Ternyata anak itu baru saja punya teman khayalan. ”Syukurlah, ini adalah gagasan yang semakin memudar ketika para peneliti mulai memahami bahwa tidak hanya memiliki teman khayalan yang normal, tetapi bahkan dapat bermanfaat secara psikologis.

Dalam sebuah artikel How Imaginary Friends Help Kids Grow, penulis Cari Romm mengatakan, “anak-anak tahu bahwa mereka tidak nyata. Para peneliti hari ini percaya bahwa teman-teman yang dibuat-buat ini bukan merupakan indikasi kesepian atau kekurangan keterampilan sosial, malah ini adalah sebuah cara normal bagi anak-anak untuk melatih imajinasi mereka. dalam beberapa kasus. Anak-anak berusia tiga tahun dapat membangun teman yang dibuat-buat oleh pikiran mereka, dan itu paling umum antara usia tiga dan delapan, meskipun kadang-kadang teman khayalan bertahan sampai remaja dan jarang sampai dewasa.

Teman-teman fiksi ini melakukan lebih dari sekadar melatih imajinasi. Teman-teman fiktif sebenarnya mendorong perkembangan sosial dan bahasa. Mereka juga dapat membantu anak-anak mengatasi peristiwa kehidupan. Menurut penelitian ini, anak-anak dengan teman khayalan lebih mampu memahami perspektif lain daripada teman sebayanya yang tidak memiliki teman khayalan. Sarannya adalah bahwa “terlibat dengan teman khayalan adalah bentuk permainan peran yang sangat kaya dan dengan demikian mengharuskan anak untuk mengambil persona dari teman khayalan dan untuk memperhitungkan perspektif teman tersebut.” Akibatnya, anak-anak yang membuat teman khayalan lebih sering percaya diri dan memiliki kosakata yang lebih kaya.

Kelemahan dari teman khayalan adalah bahwa kadang-kadang mereka bisa menjadi anak nakal dan menyuruh anak itu melakukan sesuatu yang buruk, atau anak itu akan menyalahkan teman khayalan tersebut atas perilaku buruk untuk menghindari ketidaksetujuan orang tua. Namun, secara keseluruhan, memiliki teman khayalan adalah bagian normal dan sehat dari masa kecil.

Jika anak anda memperkenalkan anda kepada teman khayalannya, jangan khawatir. Faktanya, ini adalah kesempatan sempurna untuk bermain bersama. Tetapkan waktu untuk teman bermain jika dia memintamu. Semakin anda dapat bergabung dengan anak anda di dunia imajinatifnya yang indah, semakin kuat koneksi anda dengan anak-anak anda.


2. Stres Dan Kepanikan
Orang yang baru saja selesai menonton film horor kemudian merasa ketakutan, kemudian pikiran mereka mulai membentuk apa yang mereka takutkan. Ketika orang sedang merasakan ketakutan yang teramat sangat dengan sosok pocong misalnya, maka saat melihat guling di kamar tidur pun seseorang tersebut bisa saja menganggap guling itu adalah sosok hantu pocong yang sedang maujud. Hal-hal semacam ini bukanlah hal yang baru, kita tahu bahwa pikiran akan selalu mengikuti kondisi perasaan. Jadi bagaimana lagi jika seseorang terus menerus memikirkan suatu perwujudan dengan begitu detil hingga akhirnya pikirannya mulai membentuk apa yang digambarkannya sehingga ia bisa merasakan, berkomunikasi dan berinterkasi secara langsung? Inikah Tulpa? Kita sadar semua hal yang terjadi dan yang kita alami pada indera kita sendiri merupakan manifestasi pikiran, semuanya hanya terjadi dalam pikiran, kita tidak tahu apa yang ada diluar pikiran kita sendiri.

Gangguan Jin

Well.. alasan ini sangat bergantung kepada keyakinan, umat beragama tentunya akan faham bahwa kita tidak sendiri di alam ini, ada berbagai bentuk kehidupan baik yang tampak dan tidak tampak. Dan entitas yang tidak tampak ini seringkali bertanggungjawab atas kemunculan makhluk-makhluk tertentu. Yang menjadi masalahnya saat ini adalah sains belum mampu untuk terjun ke ranah ini, sementara kita hanya mengenal bentuk yang tidak tampak ini dari keyakinan, pengalaman dan kesaksian orang-orang yang telah mengalaminya. Lantas bagaimana Tulpa bisa dianggap sebagai perwujudan dari sosok makhluk tak kasat mata?

Ada banyak kisah dan cerita tentang bagaimana praktisi kebatinan atau bela diri tertentu yang mengklaim melihat apa yang mereka visualisasikan. Contohnya; ada beberapa ritual seperti zikir atau meditasi tertentu yang memvisualisasikan wujud dewa atau sosok tertentu pula, hingga pelaku ritual ini bisa bertemu dan berbicara pada sosok yang divisualisasikannya. Ini adalah hal umum dalam ritual visualisasi. Lantas apakah mereka ini telah bertemu dengan sosok imajiner atau memang ada kekuatan lain yang maujud sesuai pikiran mereka?

Ada pendapat yang di ajukan berdasarkan kesaksian (saya cenderung melihat dari sisi sebagai seorang muslim untuk membahas hal ini). Dimana pendapat tersebut mengatakan bahwasannya setan membisikkan sesuatu kedalam pikiran kita hingga kita terus memikirkan hal tersebut hingga apa yang difikirkan itu maujud dalam bentuk nyata, tentunya dalam bentuk yang menyesatkan. Sebagai contoh saya pernah membaca sebuah kisah nyata tentang pelaku pesugihan. Seorang lelaki terus memikirkan caranya untuk menjadi kaya cara cepat tanpa harus bersusah payah, hingga di satu kesempatan tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang entah bagaimana bisa tahu isi hatinya dan mengajak dia untuk melakukan jalan sesat pesugihan. Siapa lelaki tua ini? Bagaimana ia tahu isi pikiran seseorang?

Dalam kasus ini dan dalam banyak kasus lainnya. Seringkali sosok jin atau makhluk halus sepertinya mungkin memiliki kemampuan untuk membaca apa yang difikirkan oleh seseorang, dan kemudian mulai menganggu dalam wujud apa yang difikirkan oleh orang tersebut. Jika orang tersebut terus menerus memikirkan wujud seorang wanita cantik, bisa saja di satu kesempatan sosok jin penggangu akan melihat hal itu dan mulai merubah fisiknya menjadi wanita seperti yang difikirkan oleh orang tersebut untuk kemudian mendatanginya dan menggangunya. Dan karena hal ini merupakan tinjauan dari sudut pandang keyakinan, maka tidak jarang terjadi benturan dengan sains yang mengatakan bahwa hal semacam itu hanyalah manisfestasi dari ketegangan pikiran semata.

Terlepas dari benturan yang ada, sebagai seorang muslim saya percaya bahwa jin memang memiliki kemampuan untuk merubah wujudnya dan bisa hadir di alam nyata ini dengan tujuan bervariasi pula. Dan entitas tak kasat mata ini memang bisa saja bertanggung jawab atas kemunculan Tulpa. Bisa saja jin menangkap pola pikiran manusia untuk kemudian mulai mengambil wujud seperti apa yang difikirkan dan benar-benar bisa dirasakan secara nyata oleh orang yang memikirkannya. Bukannya ada banyak pengalaman yang telah diceritakan oleh banyak orang tentang sosok wujud gaib yang menjadi teman atau sahabat?

Sahabat emosianisme, pikiran adalah aset penting dalam kehidupan, sensasi apapun yang kita rasakan sebenarnya hanyalah hasil dari proses pikiran, hal-hal baik akan mendatangi kita apabila kita selalu mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik pula, begitu juga sebaliknya. Jika kita mau mengkaji ulang, seringkali keadaan yang kita alami adalah hasil dari pikiran kita sendiri, baik susah maupun senang. Banyak orang berusaha memperbaiki ucapan, tingkah laku dan keadaan namun mereka lupa untuk memperbaiki cara berfikir, akibatnya seringkali apa yang mereka upayakan hanya menemui kegagalan semata. Berpikirlah sebaik mungkin, mudah-mudahan hal-hal baik selalu menyertai kita, semoga anda berfikir dan Wassalamualaikum.

Baca Juga; Bertemu Dengan Kembaran Diri Sendiri

Biografi lengkap penulis bisa anda lihat di Tentang Kami

Artikel Lainnya
Previous
Next Post »