Sifat Realitas Alam Semesta

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Salah satu pertanyaan paling mendasar yang kita temukan sebagai spesies utama di muka bumi ini sejak kesadaran diri yang terbangun dan terbawa dalam pikiran kita adalah realitas seperti apa adanya. Apa sifat dunia kita, alam semesta kita, kesadaran kita? Apa sebenarnya tempat kita di alam semesta ini dan mengapa kita ada di sini? Apakah sifat realitas kita? Apakah ini benar-benar nyata sama sekali, ataukah semua ini hanyalah halusinasi? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang telah memikat hati kita dan mendorong kita untuk menjelajahi dunia kita, serta telah menangkap perenungan para ilmuwan dan filsuf yang tak kenal lelah selama berabad-abad.

Teori Realitas
Namun seperti yang kita ketahui bersama, tidak ada jawaban yang mudah, dan seperti yang telah kita capai di dalam perjalanan kita yang tak henti-hentinya untuk memahami dunia dan alam semesta kita, bahkan dengan teknologi manusia yang semakin maju, inilah pertanyaan mendalam yang terus tak ingin menghindar dari kita. Dalam usaha kita untuk mencoba dan memahami realitas ada berbagai ide, teori, dan filosofi yang muncul dalam usaha kita untuk memahaminya, dan tentu saja juga dalam ranah keyakinan, beberapa di antaranya malah sangat surealis. Inilah beberapa usaha dan gagasan dari banyak manusia untuk mencoba dan menggambarkan realitas kita dan menjawab pertanyaan yang mungkin menghantui kita sampai akhir zaman terlepas dari jawaban yang telah di hadirkan oleh banyak bentuk keyakinan. Dan bagi kita umat beragama, sains untuk menjawab semua pertanyaan ini kita yakini akan selaras dengan banyak petunjuk yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, hanya saja mungkin banyak dari petunjuk dan keterangan yang telah di bawa oleh para Nabi masih belum kita pahami sifatnya, bisa jadi karena keterbatasan teknologi kita, pemahaman yang salah atau bisa jadi meyakini sesuatu yang salah dari para pembawa pesan palsu pula? Namun apapun itu, dalam artikel spesial kali ini, berikut kita akan mencoba menjelajah berbagai teori realitas yang akan saya bahas di luar dari bingkai keyakinan yang sangat beragam. Mari kita jelajah!

Tidak Ada Realitas, Semua Hanya Ilusi
Salah satu teori realitas yang sangat meresap dan telah mengambil banyak bentuk berbeda selama berabad-abad adalah gagasan bahwa tidak satu pun dari apa yang kita lihat atau kita sentuh atau kita alami itu nyata dalam artian tertentu, bahwa kita pada dasarnya hidup dalam mimpi. Konsep ini sangat bervariasi antara hipotesis dan filosofi yang berbeda, namun hasil akhirnya adalah kita mengalami mimpi realitas, dan pada prinsipnya tidak ada yang benar-benar kita alami. Salah satu gagasan awal yang berkaitan dengan ini adalah konsep filosofis yang disebut sebagai "Solipsisme," yang pada intinya menyatakan bahwa tidak ada satu pun realitas kita yang dapat dipastikan sepenuhnya ada kecuali pikiran kita sendiri, dengan realitas dunia material yang kita lihat di sekeliling kita dan interaksinya dengan tidak mungkin untuk diverifikasi dengan andal sebagai sebuah realitas di luar pengalaman kita sendiri tentang hal itu. Dalam artian, semua pikiran lain selain diri kita sendiri dan semua yang kita alami secara eksternal bisa jadi hanyalah mimpi atau ilusi, dengan satu-satunya kepastian mutlak dan nyata bahwa anda adalah anda. Anda berpikir, dan memang alam semesta itu sendiri mungkin bahkan tidak ada di luar pikiran anda sendiri. Singkatnya, semua kenyataan seperti yang kita ketahui dan beserta segala isinya termasuk semua orang di dalamnya, seluruh alam semesta adalah manifestasi dari proyeksi pikiran anda sendiri, sebuah mimpi rumit yang telah anda ciptakan dan yang hanya anda rasakan dan anda alami sendiri.

Ide dasar ini pertama kali dipikirkan oleh seorang filsuf Yunani Gorgias (483-375 SM), yang sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan objektif di luar pengalaman pribadi kita sendiri tidak mungkin terjadi. Dia tercatat telah menyatakan "Tidak ada apapun. Bahkan jika ada sesuatu, tidak ada yang bisa diketahui tentang hal itu. Bahkan jika sesuatu dapat diketahui tentang hal itu, pengetahuan tentang hal itu tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain. "Konsep egosentris ini kemudian diangkat oleh filsuf lain selama berabad-abad dalam satu varian atau lainnya, termasuk Descartes dan George Berkeley, dan terus terjalin dengan berbagai bidang filsafat dan hipotesis tentang realitas. Tentu saja menjadi jauh lebih rumit dari ini, Tetapi demi kesederhanaan daripada inti gagasannya adalah realitas kita tidak dapat diverifikasi secara independen sebagai sesuatu selain yang ada dalam kesadaran dan persepsi kita sendiri, dan oleh karena itu kita tidak dapat memastikan apapun selain keberadaan pikiran kita sendiri. Dalam hal ini, tidak hanya realitas bukan seperti apa yang kita pikirkan, tapi sama sekali tidak ada kenyataan di luar diri kita sendiri, tidak ada!

Tentu saja ada banyak argumen melawan garis pemikiran ini. Misalnya, jika kita menciptakan realitas diri kita sendiri, bukankah akan lebih mungkin kita membuat realitas yang lebih menghibur bagi kita, di mana tidak ada penyakit atau hukuman, atau kematian? Mengapa hal-hal semacam ini terjadi jika hanya terjadi di pikiran kita saja? Apakah kemudian tidak menjadi kepentingan terbaik bagi seseorang untuk melihat hal-hal ini sebagai produk dunia yang independen di luar diri kita? Juga, apakah kita harus percaya bahwa segala sesuatu di dalam semua sejarah manusia dan semua budaya, baik matematika, dan seni seperti yang kita ketahui sepenuhnya disulap oleh pikiran kita sendiri? Sebagai tanggapan, pendukung filsafat ini berpendapat bahwa impian kita seringkali tidak dapat dibedakan dari realitas saat kita memilikinya. Semuanya bisa sangat mendalam, persuasif, realistis, dan kompleks, dan tidak selalu dalam bentuk mimpi yang baik, Mungkinkah kenyataan tidak hanya menjadi satu mimpi raksasa yang diproyeksikan oleh kita? Demikian juga, obat-obatan halusinogen kuat dapat menghasilkan penglihatan dan pengalaman yang dirasakan sangat nyata oleh individu yang menjalaninya, namun hanya ada di pikiran orang itu sendiri, jadi argumennya adalah mungkinkah sebenarnya kita sedang membuat realitas yang sama realistiknya. Pada akhirnya, bagaimana kita bisa benar-benar tahu bedanya?

Otak Dalam Tong
Terkait dengan semua ini hadir sebuah eksperimen pemikiran filosofis yang disebut hanya sebagai "Otak dalam tong." Dalam kasus ini ada realitas di luar kita, tetapi kita bukan bagian dari itu. Gagasan ini mempertimbangkan skenario di mana, untuk alasan apapun, kita benar-benar ada hanya sebagai otak yang melayang-layang di dalam tong dan terhubung ke mesin yang memberi kita semua yang kita alami melalui indra kita sendiri, dengan sempurna mensimulasikan dunia luar sebagai tubuh nyata. Bisa jadi alien, ilmuwan gila, atau komputer gila yang melakukannya, tidak masalah, karena sejatinya kita tidak memiliki tubuh fisik atau mata atau telinga, dan kita tertutup dari dunia luar tanpa sepengetahuan kita. Pertanyaan yang diajukan adalah: Bagaimana kita tahu bahwa kita tidak lebih dari hanya sekedar otak tanpa tubuh yang mengapung dalam tong cairan? Gila sekali bukan gagasan teori seperti ini? Bisa jadi ide tersebut hadir sebagai ambisi dari film sains fiksi "The Matrix" dalam versi yang berbeda? Who knows bro?

Otak dalam tong
Otak dalam tong

Jika semua yang kita alami di dunia adalah melalui kelima indera yang kita miliki dan komputer canggih yang memanipulasi otak kita melalui jalur saraf untuk menghadirkan semua sensasi ini, lantas bagaimana kita bisa tahu dengan pasti bahwa tidak ada yang kita ketahui adalah realitas? Lagi pula, apa sebenarnya "Realitas" selain apa yang kita rasakan? Otak kita akan menerima sinyal dan umpan balik yang sama seperti biasanya jika kita benar-benar memiliki tubuh, sehingga kita memiliki pengalaman kesadaran normal, hanya saja kita tidak berada benar-benar di "dunia nyata". Salah satu argumen umum yang diajukan untuk menggambarkan hal ini adalah:

1. Jika saya tahu bahwa X, maka saya tahu bahwa saya bukan otak dalam tong 
2. Saya tidak tahu bahwa saya bukan otak di tong 
3. Jadi, saya tidak tahu apa itu X.

Dalam argumen ini "X" akan berdiri untuk keyakinan atau klaim apapun tentang dunia eksternal atau kenyataan seperti yang kita lihat. Eksperimen pemikiran ini paling terkenal digunakan oleh film Matrix yang pernah populer dalam serangkaian film fiksi ilmiah, di mana manusia mengambang di dalam polong embrio buatan saat mereka menjalani kehidupan di dalam realitas virtual secara bersamaan dengan realitas rumit yang diciptakan dan dikendalikan oleh mesin. Hal seperti ini terkait dengan gagasan lain dimana kita tidak hanya bisa terhubung ke mesin yang menghasilkan realitas kita, tapi mungkin kita benar-benar melakukan ini dengan sengaja. Hipotesis ini mengandaikan bahwa kita sebenarnya hidup di masa depan yang jauh atau bahkan sebagai alien, dan bahwa kita telah mendongkrak masuk ke sistem ini untuk menjalani hidup kita pada periode waktu ini dan pengalaman hidup dalam bentuk ini melalui avatar simulasi dalam dunia virtual interaktif. Setelah itu kita bangun ke tubuh kita yang sebenarnya di masa depan atau di sebuah dunia super saat semuanya berakhir. Bahkan telah di hadirkan ide bahwa waktu bisa berlalu lebih lambat dalam simulasi ini, jadi kehidupan 80 tahun penuh bisa berlalu dari lahir sampai mati dalam simulasi ini, namun tubuh asli kita hanya akan melakukan ini selama beberapa menit saja. Wow..! Apakah anda mulai merasakan pusing dengan semua teori kegilaan ini?

Angka Fibonacci
Semua hal tersusun sempurna dalam perhitungan matematika yang tepat. Bukti dari komputasi sistem?

Simulasi Dunia Virtual Reality
Berbicara tentang realitas simulasi komputer, teori realitas lainnya adalah bahwa kita semua dan semua yang kita lihat tidak lebih dari sebuah komputer yang sangat canggih yang menghasilkan kenyataan dan bahwa kita semua adalah program yang hidup di dalamnya, ini merupakan topik yang selalu ingin saya bahas disini. Disebut "Teori Simulasi," gagasan ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang filsuf Inggris bernama Nick Bostrom, yang berspekulasi bahwa dengan mempertimbangkan kemajuan astronomi teknologi komputer dan kemampuan kita untuk membuat dunia simulasi yang lebih dapat dipercaya, seperti VR atau video game, akan ada poin ketika kita mampu menciptakan simulasi digital yang realistis yang tidak dapat dibedakan dari kenyataan, bersama dengan prosesor AI (Artificial Intelligence aka Kecerdasan Buatan) yang super canggih untuk memproses semua realitas palsu ini. Menurut Bostrom, akan datang suatu hari ketika kita memiliki teknologi untuk menciptakan dunia digital yang berfungsi penuh, yang kemudian akan berkembang sampai pada tahap dimana ia bisa melakukan simulasi sendiri dalam simulasi dan sebagainya pada tingkat Ad infinitum.

Karena hampir menjadi suatu kepastian bahwa suatu hari kelak kita akan menciptakan kenyataan maya ini yang memang saat ini sudah di rintis, dimana semua itu dapat meningkatkan kecanggihan demi membangun realitas komputer itu sendiri, dan mengingat hal itu dapat terjadi dan secara statistik kita jauh lebih mungkin untuk menjadi salah satu bagian dari simulasi tersebut dan bukan sebagai pencetusnya secara biologis. Memang, sang pencipta realitas simulasi dalam teori ini tidak diketahui. Dalam kasus ini, kita hanyalah program yang hidup di dunia yang dihasilkan oleh kecanggihan komputer dan bahkan kita sendiri tidak mengetahuinya. Bahkan di pertimbangkan juga simulasi yang kita jalani ini diawasi dan dipelajari oleh sang pembuat sistem komputer ini, semacam simulasi lain yang menciptakan kita, atau bahkan alien. Bahkan ada orang-orang yang menunjukkan pengalaman anomali, hantu, dan fenomena supernatural yang mengarah pada realitas simulasi ini, karena ini bisa saja disebabkan oleh kesalahan dalam sistem, "Gangguan dalam matriks" sehingga menghadirkan celah error yang membuat sistem mengangkangi hukum simulasi itu sendiri lantas memungkinkan terjadinya "Cheat" seperti yang sering di lakukan oleh gamer? Bagi mereka yang percaya akan teori realitas semacam ini, umumnya seringkali menyandarkan bahwa fenomena semacam De Javu dan pengalaman aneh yang biasanya disebut kebetulan yang signifikan sebagai bukti bahwa semua realitas saat ini hanya sebuah simulasi dari proyek mega komputer!

Yang menjadi semakin tidak masuk akalnya karena semua gagasan ini mungkin tampak berhasil, karena ada banyak filsuf, ilmuwan, fisikawan, dan teknolog paling tidak telah tergugah dengan kemungkinan aneh versi filsafat ini, dan beberapa dari mereka bahkan telah mencoba untuk menyelidiki secara ilmiah apakah hipotesis tersebut dapat menunjukkan bukti kebenarannya. Salah satu cara untuk menguji Teori Simulasi ini adalah gagasan bahwa jika kita benar-benar tinggal dalam simulasi komputer, maka kita akan dapat berharap untuk menemukan adanya batas resolusi program. Diusulkan agar jika kita melihat dengan sangat seksama jaring alam semesta, kita dapat mengetahui apakah ada batas tertentu pada seberapa kecil sesuatu dari "resolusi" alam semesta, yang dapat dibandingkan dengan piksel dalam suatu gambar komputer. Beberapa tim ilmuwan menyatakan bahwa resolusi ini bisa dideteksi secara ilmiah dengan benar, dan telah melakukan upaya terhadap hal ini, dengan berbagai tingkat keberhasilan sejauh ini menurut mereka.

Sifat Realitas Alam Semesta
Kebetulan adalah sebuah hasil dari sistem error? Simulasi realitas mengalami "Lag"
Selain gagasan bahwa segala sesuatu mungkin adalah simulasi komputer, kemudian hadir gagasan lain yang menyatakan bahwa alam semesta ini sendiri sebenarnya adalah sebuah mega komputer. Ini adalah klaim yang agak sensasional yang dibuat oleh Vlatko Vedral, seorang profesor teori informasi kuantum di Oxford. Menurut Vedral, segala sesuatu di alam semesta, termasuk planet, bintang, galaksi, dan hal lainnya, semuanya terdiri dari sirkuit motherboard yang luas dan tidak dapat dipahami, dengan informasi alam semesta yang terdiri dari "bit," unit informasi terkecil di komputer, atau potongan terkecil materi saat diterapkan di alam semesta. Di komputer ini, bit-bit ini mewakili pertanyaan sederhana "Ya atau Tidak", di dalam komputer yang diekspresikan dari angka 1 dan 0. Dalam teori Vedral, partikel subatom terkecil di alam semesta melakukan fungsi yang sama namun pada skala yang jauh lebih luas, membuat alam semesta kita pada prinsipnya adalah satu komputer kuantum raksasa.

Sifat Realitas Alam Semesta

Tidak Ada 3 Dimensi
Beberapa gagasan tentang sifat realitas dan alam semesta tidak menunjukkan sesuatu sebagai mimpi atau keadaan simulasi, tapi sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang kita yakini. Salah satu teori yang sangat aneh menyatakan bahwa alam semesta yang kita lihat sebenarnya adalah sebuah hologram yang rumit. Gagasan tersebut diajukan oleh seorang fisikawan bernama Leonard Susskind pada era 1990-an, yang menyadari bahwa banyak hukum fisika kita tampaknya secara matematis digambarkan dalam dua dimensi dan bukan tiga dimensi. Meskipun sangat kompleks dan sulit untuk dijelaskan secara sederhana, dorongan utama dari gagasan ini adalah kenyataan 3D kita semua ada pada permukaan luar 2 dimensi, yang kemudian diproyeksikan melalui berbagai proses untuk menciptakan persepsi kita tentang realitas, menciptakan hologram masif dan sangat kompleks. Hal ini dalam istilah yang paling dasar sebenarnya sangat mirip dengan bagaimana layar 3D bekerja, dengan gambar 2D dimanipulasi untuk memberi ilusi untuk memiliki dimensi kedalaman. Konsep rumit itu dijelaskan oleh profesor matematika Kostas Skenderis, dari University of Southampton demikian:

Bayangkan segala sesuatu yang anda lihat, rasakan dan dengar dalam tiga dimensi (dan persepsi waktu anda) sebenarnya berasal dari medan dua dimensi yang datar. Idenya mirip dengan hologram biasa dimana gambar tiga dimensi dikodekan dalam permukaan dua dimensi, seperti pada hologram di kartu kredit. Namun, kali ini, seluruh alam semesta dikodekan! Holografi adalah lompatan besar ke depan dalam cara kita memikirkan struktur dan penciptaan alam semesta. Teori relativitas umum Einstein menjelaskan hampir semua skala besar di alam semesta dengan sangat baik, namun mulai terurai saat memeriksa asal dan mekanisme pada tingkat kuantum. Para ilmuwan telah bekerja selama puluhan tahun untuk menggabungkan teori gravitasi Einstein dan teori kuantum. Beberapa percaya konsep alam semesta holografik memiliki potensi untuk mendamaikan keduanya.

Memang, cukup menarik karena kita paham bahwa selalu ada dua sisi, tidak ada sisi ketiga. Nah teori ini dianggap bisa menjelaskan beberapa perbedaan yang terlihat antara fisika kuantum dan relativitas umum menurut versi ilmuwan yang meyakini ini, serta di kaitkan dengan perilaku alam semesta yang tidak biasa pada hari-hari awalnya setelah Big Bang. Ini hanya membuat beberapa perhitungan dan teori alam semesta berubah menjadi lebih mudah, dan beberapa periset bahkan mengklaim telah menangkap bukti yang mungkin bahwa Teori Hologram itu nyata. Salah satu studi yang diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters pada tahun 2017 mengklaim bahwa bukti pengamatan alam semesta sebagai hologram ditemukan di latar belakang gelombang mikro kosmik, yang merupakan semacam suara putih dan cahaya yang tersisa dari Big Bang. Studi tersebut mengklaim:

Dalam studi Inggris, Kanada dan Italia telah memberikan apa yang diyakini oleh para periset sebagai bukti pengamatan pertama bahwa alam semesta kita bisa jadi sebuah hologram yang luas dan kompleks. Fisikawan teoretis dan astrofisikawan, menyelidiki penyimpangan dalam latar belakang gelombang mikro kosmik ('gelombang awal' Big Bang), telah menemukan adanya bukti substansial yang mendukung penjelasan holografik tentang alam semesta - sebenarnya, sama seperti penjelasan tradisional tentang iregularitas ini menggunakan teori inflasi kosmis.
Sifat Realitas Alam Semesta
Sejatinya hanya ada dua sisi, sisi ketiga adalah ilusi hologram?

Meski demikian, gagasan bahwa alam semesta adalah hologram masih dipandang sangat hipotetis dan jauh dari terbukti secara meyakinkan. Meski memikat dalam beberapa hal dan tentu saja sangat menarik, pengamatan eksperimental dari penelitian ini tidak benar-benar membuktikan bahwa alam semesta adalah hologram, hanya saja bukan merupakan kemungkinan yang bisa dikesampingkan. Seorang fisikawan di Institute for Theoretical Physics di Vienna University of Technology bernama Daniel Grumiller memberikan pemikirannya demikian:

Hasilnya tidak meyakinkan karena tidak memungkinkan anda untuk mengesampingkan model holografik mereka, namun juga tidak memungkinkan untuk membuat pernyataan bahwa data tersebut lebih memilih model holografik mereka daripada kosmologi standar.

Kosmologi Semesta Alam Di Dalam Sebuah Bola
Oke! Artikel ini semakin membuat pusing, mimpi, realitas yang dihasilkan komputer, dan hologram mungkin sudah super aneh, tapi mungkin teori realitas yang paling aneh seperti yang kita ketahui menentang model kosmologi modern, bukan teori geosentris, bukan pula teori bumi datar, melainkan sebuah teori yang menyatakan bahwa kita sebenarnya tidak berada di tempat yang berada di alam semesta, melainkan di bagian dalam sebuah bola raksasa. Gagasan ini adalah semacam cabang dari Hollow Earth Hypothesis, yang pada dasarnya mengatakan bahwa kita hidup di luar planet berongga, hanya saja dalam hal ini ia menjadi terbalik. Disebut "Hipotesis Hollow Earth Concave", atau juga "Skycentrism," gagasan tersebut awalnya di hadirkan oleh seorang dokter Amerika bernama Cyrus Reed Teed pada tahun 1869, yang setelah mengalami sengatan listrik yang parah dalam sebuah percobaan merasa mendapat pencerahan dan menyatakan bahwa semua kehidupan di Bumi ini ada di dalam lingkungan terbalik dan bahwa alam semesta terbentang di bagian dalam bola. Dia juga percaya setelah kecelakaan tersebut dia merasa bahwa ia adalah mesias baru di dunia, dan menyatakan bahwa dia ingin menyatukan dunia sains dan agama, jadi begitulah, ingat! Ia mengklaim semua ini setelah tersengat listrik. Jadi ada kemungkinan ia mengalami error.

Teed menyebut hipotesisnya sendiri sebagai "Cellular Cosmogony," dan itu sama anehnya seperti yang kita duga. Menurut Teed, yang menuliskan semua ini dalam sebuah buku di tahun 1898, The Cellular Cosmogony, alam semesta terletak di dalam hamparan batu besar yang berdiameter 8.000 mil. Dalam lubang yang luas ini kita menjalani kehidupan kita di permukaan dalam gua, jadi ketika kita melihat "naik" sebenarnya kita hanya benar-benar melihat lebih dalam ke dalam rongga dan bukannya malah keluar. Di sekitar kita tampaknya ada tiga lapisan atmosfer, terdiri dari udara, hidrogen, dan aboron, dan di pusat bola masif ini adalah matahari kita, yang tidak kita lihat secara langsung tapi lebih terasa melalui pembiasan dan fokalisasi di puncak atmosfer. Untuk menjelaskan pergerakan matahari di langit, Teed mengklaim bahwa di alam semesta ini cahaya bisa secara dramatis membengkokkan lintasan yang melengkung untuk sampai ke kita. Untuk menjelaskan siang dan malam, dia menjelaskan bahwa separuh matahari gelap dan separuh adalah cahaya lainnya, dan rotasinya di antara kedua sisi ini menciptakan malam, siang, dan musim. Dan tidak hanya berhenti disini saja, Teed juga menjelaskan lebih luas tentang alam semesta versinya.

Memang, Teed memiliki segalanya yang cukup sesuai untuk disesuaikan dengan teorinya, dan selalu siap untuk menjelaskan fenomena duniawi dan antariksa. Dia mengklaim bahwa sisi gelap matahari membiaskan titik-titik cahaya yang difilter dan memberi ilusi bintang yang bisa kita lihat. Komet adalah hasil pembiasan cahaya yang berkilauan dari kristal kecil yang melayang di dalam bola di dekat matahari. Nebula adalah hasil dari Blurriness atau ketidaksempurnaan dalam fokalisasi cahaya matahari. Planet dan Bulan dijelaskan sebagai ilusi optik yang dihasilkan oleh proyeksi cakram yang mengambang di dalam lapisan kerak yang berbeda di bawah kaki kita, yang tebalnya 100 mil dan memiliki 17 lapisan. Angin, pelangi, petir, dan bahkan gravitasi itu sendiri, Teed punya jawaban untuk semuanya, dan semuanya sangat kompleks dan dijelaskan dengan begitu cermat serta begitu banyak jargon dan sains semu sehingga praktis bisa dimengerti meski sulit untuk bisa dibuktikan. Mungkin sepertinya Teed membutuhkan beberapa sengatan listrik lagi untuk bisa menjelaskan teorinya yang dilengkap dengan pembuktian.

Teed begitu yakin akan teori anehnya sehingga dia memulai sebuah grup mirip kultus di Florida yang disebut Koreshan Unity, yang memiliki tujuan untuk mencoba membuktikan gagasan ini sebagai sebuah kebenaran. Untuk tujuan ini, mereka mengembangkan instrumen "Ilmiah" yang mereka sebut "Rectilineator", yang mereka gunakan untuk melakukan eksperimen di pantai selama 5 bulan dan menurut mereka untuk membuktikan teori mereka. Tidak jelas bagaimana sebenarnya mereka membuktikan hal itu selain bahwa hal itu mungkin hanyalah delusi, dan setiap hal mendasar yang kita ketahui tentang bumi kita tidak sesuai dengan gagasannya yang menganggap kita tinggal di dalam batu besar berlubang, namun gagasan tentang tanah berlubang yang cekung telah berhasil bertahan, dan masih dipercaya oleh sejumlah orang, cukup mengejutkan ya kan?

Tujuan Semua Ini
Tentu akan selalu ada gagasan, hipotesis, dan teori lain tentang sifat realitas kita, dan saya hanya melihat pilihan di sini. Dalam hampir setiap kasus, kita kekurangan sarana untuk memverifikasi atau mengabaikan gagasan-gagasan liar yang sering kali terjadi ini, sehingga membiarkan mereka menjadi eksperimen yang tidak lebih dari dugaan, entah bagaimana harus berputar-putar dalam debat yang menegangkan urat leher, lamunan, dan spekulasi. Mungkin di beberapa titik di masa depan kita akan dapat memastikan dengan pasti apakah renungan-renungan ini mengenai realitas itu benar atau tidak, tapi selama kita terjebak di tubuh lemah ini tetap setidaknya semua itu akan menghadirkan berbagai imajinasi untuk mencari tujuan dalam bingkai "Nyata", dorongan tak terpuaskan dalam pencarian kita untuk memahami sifat realitas dan tempat kita di dalamnya. Untuk apa? Untuk mencari jawaban akhir dari sebuah pertanyaan yang akan sangat bergantung kepada siapa anda mencari jawaban. Sebagai seorang muslim, apapun teori dan imajinasi yang memerangkap pikiran kita, saya rasa kita bisa menemukan jalinan jawaban di antara rangkaian firman-Nya, butuh waktu memang, tapi disinilah kesempatan kita untuk menemukan kembali jalan pulang sebelum segala sesuatunya berakhir. Semoga kita berpikir dan Wassalamualaikum.

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.(QS.An-Najm(53):28)

“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” (Ali bin Abi Thalib) *Memerlukan verifikasi.

Baca Juga; Mesin Penerobos Waktu

Posting Komentar