Tanaman Kriptid Misterius

Halo emosi muda,.. Assalamualaikum. Sudah sejak lama dari perjalanan waktu yang terus berlalu, manusia telah memiliki daya tarik tertentu dengan hutan, pepohonan, dan tanaman di dunia kita. Mereka eksis di sebagian besar bumi kita dengan hijau, hijau dan hijau, dan meskipun di masa modern tanaman adalah sesuatu yang biasa sering dianggap remeh, dianggap hanya sebagai latar belakang saja, namun selalu ada kisah tanaman misterius dari pepohonan yang membingungkan serta menaikkan alis mata. Sementara hewan misterius dan makhluk mitos terdengar cukup menarik, sama menariknya dengan tanaman dan pohon yang tentunya juga sama misteriusnya seperti yang telah dilaporkan di sepanjang masa, dan inilah beberapa cerita asing nan nyeleneh dari berbagai laporan semacam itu.

Pohon yang tak pernah menjatuhkan daun
Salah satu pohon yang membuat penasaran ini diduga pernah ada di kebun rumah seorang Daimyo (Bangsawan Jepang) di daerah di Honjo, di wilayah Hiradoshinden-han Jepang di sekitar masa Edo (1603-1868). Rumah yang sangat anggun, dikenal sebagai rumah Matsura, terletak di sekitar apa yang kemudian dikenal sebagai Sungai Agung, disebut Sungai Sumida, dan sebuah taman besar berdinding dari dunia luar. Di dalam taman ini ada pohon oak chinkapin berukuran besar dengan cabang-cabangnya yang melengkung menutupi dinding, pohon ini sangat dihormati oleh orang-orang di daerah itu. Hal yang aneh dari pohon ini adalah bahwa pohon ini konon tidak pernah menjatuhkan daunnya, tidak peduli sedang musim apa. Tukang kebun Daimyo sering kali berbicara tentang ia tidak pernah menemukan satu helai daun pun yang terjatuh dari pohon misterius itu, bahkan di tengah musim dingin, dan ada dugaan bahwa pohon itu memiliki kekuatan magis.

Pohon ganjil itu dikenal sebagai Ochiba Naki Shii, Pohon Oak Chinkapin yang tak pernah menjatuhkan daun, dan memang, Daimyo sendiri dikatakan yakin bahwa pohon itu seperti menyimpan semacam energi sihir, jin, atau bahkan kutukan yang menyatukannya. Jadi, karena dia merasa tidak tenang disebabkan oleh pohon itu, maka ia hanya menghabiskan waktu sebentar saja di rumah tersebut sebisa mungkin, dan bahkan seringkali mempertimbangkan untuk menebangnya, tapi ketenaran pohon ajaib itu telah menyebar, dan untuk menghancurkannya pasti akan sangat membuat orang-orang menjadi marah. Sebenarnya, mansion ini telah menjadi tujuan populer bagi para pencari rasa ingin tahu dari segala penjuru, sampai-sampai diketahui bahwa pohon itu dikenal sebagai Rumah Pohon Chinkapin. Pohon yang tidak biasa itu menjadi begitu legendaris sehingga ceritanya berlanjut menjadi salah satu Honjo Nana Fushigi, atau "Tujuh Keajaiban Honjo," dan kisahya diceritakan telah jauh menyebar kemana-mana.

Buah dan duan pohon ek chinkapin
Buah dan duan pohon ek chinkapin

Tidak pasti seberapa benar kisah tentang Pohon Chinkapin misterius dengan daunnya yang tak pernah gugur itu, dan sayangnya kita mungkin tidak akan pernah tahu. Tanah tempat pohon itu sendiri berdiri akhirnya dibeli oleh seorang konglomerat finansial bernama Yasara Zaibatsu selama periode Meiji (1868-1912), yang merupakan masa modernisasi sosial yang hebat di negara ini. Perusahaan tersebut menjadikan kawasan itu menjadi sarana taman pribadi bernama Yasuda Park, setelah itu kemudian dijadikan taman umum yang ada sampai sekarang di Sumida Ward, Tokyo. Meskipun ada monumen batu yang menandakan di mana pohon legendaris dikatakan pernah berdiri, pohon itu sendiri sudah lama tiada lagi, dan taman itu sama sekali telah berubah jauh dibandingkan dengan keadaanya di tempo dulu. Apa pun yang terjadi dengan itu serta dugaan yang ada, tetapi pohon itu hidup dalam mitos dan legenda rakyat Jepang.

Pohon buah berwajah manusia
Juga banyak dibicarakan di Jepang adalah jenis pohon mistis yang dikenal sebagai Jinmenju, "Pohon Berwajah Manusia." Berawal dari sebuah kisah yang berasal dari China, di mana dituliskan dalam sebuah buku berjudul Sansai Zue, "Kumpulan Gambar Langit, Bumi, dan Manusia", dan juga laporan serupa dari India dan Persia, pohon-pohon aneh ini dikatakan memiliki buah merah muda yang tampak seperti kepala manusia, yang disebut Jinmenshi, atau "Bocah berwajah manusia", lengkap dengan mata, telinga, hidung, dan mulut, dan buah ini cenderung tampak tertawa. Jika salah satu dari buah pohon aneh ini tertawa terlalu keras, dikatakan ia akan jatuh dari pohon dan layu. Mereka juga kadang-kadang berbisik atau berbicara, yang tentu saja mampu mengejutkan dan meresahkan orang yang sedang lewat. Menariknya, buah itu dikatakan memiliki rasa asam manis yang sangat menyenangkan jika seseorang memakannya.

Menurut ensiklopedia era Edo Wakan Sansai Zue, di Jepang, pohon-pohon ini ditemukan di selatan, dan ada beberapa orang yang menanam kebunnya dengan pohon-pohon aneh ini dengan buahnya yang tampak tertawa aneh, atau sambil tersenyum. Laporan lain mengatakan bahwa ada sebuah pulau misterius yang ditumbuhi pohon-pohon ini di suatu tempat di Samudera Hindia, laporan ini berasal dari seorang dokter yang mengklaim pernah benar-benar berada di sana.

Pohon buah berwajah manusia
Ilustrasi pohon buah berwajah manusia

Satu laporan lain yang juga sangat aneh datang dari dokter lainnya di Jepang, ia menulis dalam catatannya dengan cukup serius untuk menemukan lembah dimana dia menemukan jenis pohon tropis yang tampak aneh dan belum pernah dia lihat sebelumnya. Saat dia melewatinya, dia mengaku mendengar suara-suara, dan ketika dia bertanya siapa yang ada di sana, dia mendengar balasan samar, "Kami adalah kami." Saat itulah dia menyadari bahwa suara-suara itu berasal dari buah yang tidak biasa yang memiliki wajah manusia, tampak seperti kepala bayi, memiliki mata yang sedang menatapnya. Ketika dia bertanya apakah ada seseorang di balik pohon itu, suara-suara itu kembali menjawab "Kami adalah pohonnya," yang sangat mengejutkan dokter tersebut panik sehingga ia tersandung dan terjatuh. Hal ini membuat buah-buah tersebut tertawa, dan beberapa dari mereka tertawa terbahak-bahak sampai jatuh dari dahan dan berguling-guling di tanah sambil mengerutkan kening dan kemudian menangis.

Pohon sepuluh ribu gambar
Pohon misterius dan legendaris lainnya diduga berada di padang gurun Tibet yang membeku, di sebuah biara Budha yang disebut Kumbum, terletak di antara kaki bukit pegunungan Himalaya yang dingin, di mana pohon mistis misterius itu tumbuh di lembah sebuah bukit dekat biara. Pohon legendaris yang dimaksud adalah sebuah pohon cendana, memang, dari kejauhan tampak normal-normal saja, namun jika seseorang mendekatinya, dikatakan bahwa seseorang dapat melihat dedaunannya tercetak dengan berbagai simbol mistis, huruf, gambar, dan bahkan wajah Sang Buddha itu sendiri, dengan seluruh area di lingkungannya dipenuhi aroma manis nan harum yang memabukkan.

Pohon cendana ini juga disebut sebagai "Pohon Emas", "Pohon Mantra", dan "Pohon Sepuluh Ribu Gambar," pohon ini dikatakan memiliki berbagai kekuatan, seperti penyembuhan, prekognisi, dan ramalan. selama berabad-abad ia menjadi tempat suci, dihormati di seluruh Tibet dan Mongolia. Pohon misterius itu pertama kali diketahui orang luar pada tahun 1800an, dan salah satu orang luar yang pertama kali melihatnya adalah seorang pendeta misi kongregasi lazarist katolik bernama Abbe M. Huc, yang melakukan perjalanan ke negeri yang jauh ini untuk melihatnya setelah mendengar desas-desus tentang keberadaannya saat bepergian dari Peking ke Lhasa. Huc melakukan perjalanan yang mengejutkan ke biara terpencil tersebut bersama dengan rekan pendeta Joseph Gabet, dan mereka berdua sangat ragu bahwa pohon legendaris itu benar-benar ada, tapi fakta yang mereka temukan sangat mengejutkan. Huc menulis tentang pohon megah ini di jurnal perjalanannya Travels in Tartary, Thibet and China Selama Tahun 1844-5-6, mengatakan:

Ya, pohon ini memang ada, dan kami telah terlalu sering mendengarnya selama perjalanan kami dan tidak terlalu berhasrat untuk mengunjunginya. Di kaki gunung tempat Lamasery berada, dan tidak jauh dari kuil utama Budha, ada sebuah kandang persegi besar yang dibentuk oleh dinding bata. Setelah memasuki ini, kami dapat menganlisa saat bersantai di pohon yang menakjubkan itu, beberapa cabang yang telah naik di atas tembok. Mata kami pertama kali terarah dengan keingintahuan yang sangat kuat pada dedaunan, dan kami dipenuhi dengan keterkejutan yang takjub karena menemukan bahwa sebenarnya, ada pada masing-masing daunnya membentuk karakter tulisan Thibetan, berwarna hijau, Beberapanya lebih gelap, beberapa lebih cerah dari pada daun itu sendiri. Kesan pertama kami adalah kecurigaan adanya manipulasi dari pihak Lamas (Orang yang mengabdikan diri pada darma budhisme Tibet). Tapi setelah satu menit memeriksa setiap detailnya, kami tidak bisa menemukan sedikit trik apapun. Keseluruhan karakter tampak pada kami dari bagian daun itu sendiri, bersamaan dengan pembuluh dan uratnya. Posisi itu tidak sama; Dalam satu daun mereka akan berada di atas daun; di tempat lain, di tengah; di tempat ketiga, di dasar, atau di sampingnya, daun muda mewakili karakter hanya dalam keadaan formasi parsial. Kulit pohon dan cabangnya menyerupai pohon plane (Platanus), juga ditutupi dengan karakter ini. Bila anda melepaskan sekeping kulit tua, kulit muda di bawahnya menunjukkan garis karakter yang samar dalam keadaan berkecambah, dan, yang sangat unik, karakter baru ini tidak jarang berbeda dari yang telah dilepas. Pohon sepuluh ribu gambar ini sepertinya sudah sangat tua. Batangnya, tiga orang pria hampir tidak bisa memeluknya dengan lengan terulur mereka, tingginya tidak lebih dari delapan kaki; cabang-cabangnya, bukannya meninggi, menyebar seperti bulu dan sangat luar biasa lebat; beberapanya sudah mati. Daunnya selalu hijau, dan kayunya yang berwarna kemerahan, berbau harum seperti kayu manis. Lamas memberi tahu kami bahwa di musim panas menuju bulan kedelapan, pohon itu menghasilkan bunga merah besar dengan karakter yang sangat indah. Kami memeriksa semuanya dengan perhatian terdekat, untuk mendeteksi kemungkinan adanya tipuan, tapi kami tidak dapat membedakannya, dan keringat benar-benar menetes di wajah kami di bawah pengaruh sensasi yang membuat tontonan paling menakjubkan ini tercipta. Intelejensia lebih mendalam dari kita mungkin, mungkin, dapat memberikan penjelasan yang memuaskan tentang misteri pohon singular ini; Tapi bagi kami, kami sama-sama menyerah. Pembaca kami mungkin tersenyum atas ketidaktahuan kami; Tapi kami tidak peduli, agar ketulusan dan kebenaran pernyataan kami jangan dicurigai. . . . Lamas memberitahu kami itu. . Tidak ada tempat lain yang ada pohon lain seperti ini; Banyak usaha telah dilakukan di berbagai Lamaseries Tartary dan Thibet untuk menyebarkannya melalui bibit dan stek, namun semua upaya ini tidak membuahkan hasil.

Pohon ini konon masih ada disana di vihara, meski sudah terlarang bagi orang luar untuk mengunjunginya.

Tanaman domba
Salah satu tanaman lain yang paling aneh dan misterius di sepanjang masa adalah tanaman yang berasal dari Asia Tengah yang dikatakan dapat menumbuhkan buah yang aneh dengan mengambil bentuk yang mengingatkan kita pada seekor domba, menempel pada bagian utama tanaman melalui semacam tali pusar serta dapat bergerak dan berjalan. Tanaman ini paling sering disebut The Lamb of Tartary, tapi juga dikenal dengan banyak nama lain seperti The Nakalable Lamb of Tartary, The Scythian Lamb, dan The Borometz, Borametz, Barametz, atau Barometz, tanaman aneh ini pertama kali ditulis pada abad ke-14. Anak-anak domba yang tumbuh dari tanaman ini dikatakan sangat independen dan gesit, bahkan memakan rumput di sekitarnya seperti layaknya domba asli, namun ia merupakan bagian tanaman secara keseluruhan, sehingga bisa menjadi layu dan sekarat serta mati jika tali penghubungnya diputus. Tanaman domba sayuran ini juga akan konon mati jika domba itu telah memakan semua rumput yang berada dalam jangkauannya, setelah itu ia akan mati kelaparan. Begitu anak domba itu mati, bulunya di gunakan sebagai wol dan dagingnya dikonsumsi, rasa dagingnya dikatakan sangat luar biasa lezat, dan darahnya terasa seperti madu.

Domba Tartary
Domba Tartary

Salah satu orang luar yang menyatakan tentang makhluk-makhluk aneh ini terdapat dalam sebuah perjalanan yang ditulis oleh Sir John Mandeville pada abad ke-14, ia berkeliling dunia dan banyak menulis tentang banyak hal menakjubkan dan aneh serta orang-orang yang ditemuinya dalam petualangannya. Pada satu titik ia menemukan dirinya berada di tempat yang sekarang bernama Tartary, yang sekarang merupakan bagian dari China, di mana ia bertemu dengan tumbuhan anak domba yang terkenal itu dan berkata demikian:

Di sana tumbuh semacam buah sebesar labu, dan ketika sudah matang orang membukanya dan menemukan di dalamnya hewan dari daging, darah dan tulang, seperti anak domba kecil tanpa wol. Dan orang-orang di wilayah itu memakan hewan tersebut, dan juga buahnya. Ini adalah sebuah keajaiban besar.

Domba Tartary
Ilustrasi tanaman domba Tartary

Sayangnya, diperkirakan bahwa sangat mungkin kisah perjalanan ini adalah hoax dan Mandeville tidak pernah benar-benar ada, jadi kebenaran dalam laporan khusus ini patut dipertanyakan. Meskipun demikian, Anak Domba Tartary disebutkan dalam laporan lainnya dari para penjelajah yang mengeksplorasi wilayah tersebut, dan mulai menarik minat para naturalis yang senang dengan potensi keberadaan tanaman aneh ini. Pada abad ke-16, seorang sarjana dan diplomat yang dihormati bernama Baron Sigismund von Herberstein memasukkan laporan tumbuhan anak-anak domba tersebut di dalam pekerjaan berpengaruhnya tahun 1549 Court of Muscovy di Rusia, yang disebut dengan Notes on Muscovite Affairs. Selain hanya pembicaraan politik, ada beberapa catatan laporan tentang Anak Domba Tartary, yang tampaknya berasal dari saksi-saksi orang Rusia. Karl Shuker menulis tentang laporan ini di dalam bukunya A Manifestation of Monsters, di mana ia menulis tentang laporan Baron demikian:

Laporan Baron menyatakan bahwa tanaman domba ini tidak hanya memiliki kepala normal seekor domba dengan mata dan telinga, tetapi juga bulu domba. Tubuhnya yang kecil bahkan memiliki kuku kayu, meskipun ini sangat halus karena terbentuk dari rambut yang dikompres padat, bukan zat tanduk yang keras seperti kuku anak domba asli. Anak domba itu menempel secara permanen pada batang panjang, sebanding dengan tali pusar, yang tumbuh vertikal sampai ketinggian sekitar 2,5 kaki, sehingga menahan tinggi domba di atas tanah, tapi ternyata bisa menggunakan bobotnya untuk membengkokkan batang ke bawah, dengan demikian memungkinkannya untuk berdiri dan berjalan di atas tanah, dan juga untuk merumput di atas rerumputan atau dedaunan yang berada dalam jangkauannya.

Saya merasakan kegembiraan pada saat ini bahwa ini bisa menjadi semacam anomali alam yang menyatukan dunia tumbuhan dan hewan menjadi satu dalam sebuah harmoni, dan anak domba ini menjadi inklusi reguler di sebagian besar bestiaries, di mana hal itu dianggap sangat nyata. Selama berabad-abad, ekspedisi sesekali dikirim untuk mencari spesimen tanaman yang sulit dipahami ini, namun bukti biasanya selalu langka untuk ditemukan. Beberapa penjelajah datang dari daerah di mana anak-anak domba itu dikatakan berada dengan dongeng tentang wol yang digunakan untuk pakaian, dan mengklaim bahwa bagian kulit domba ini kadang-kadang dapat ditemukan dan dijual dengan harga selangit. Terkadang, beberapa dari kulit domba ini bahkan di percaya masih tersisa dan menuju peradaban saat ini, seperti mantel yang dilapisi kulit domba nabati ini yang diduga masuk ke dalam harta kepemilikan Sir Richard Lea, yang ianya sendiri adalah seorang duta besar Inggris untuk istana Tsar Rusia, Ivan IV pada tahun 1570. Mantel itu disumbangkan ke Perpustakaan Bodleian Oxford pada tahun 1609 bersamaan dengan sampel tanaman aneh dan hewan lain yang disimpan oleh Lea, namun tidak diketahui apakah mantel tersebut masih tersimpan, telah terlupakan, atau telah hilang dari waktu ke waktu, nasib terakhirnya tidak diketahui.

Yang lebih mengesankan lagi adalah hadirnya spesimen dari salah satu tanaman domba yang dipelihara, diduga dibeli dari seorang pedagang India oleh Mr. Buckley, yang kemudian dipajang di Royal Society of London pada tahun 1698. Spesimen itu memiliki panjang sekitar 1 kaki dan ditutupi dengan bulu kuning gelap. Royal Society juga di duga memiliki spesimen lain dari seekor tanaman domba di tahun 1725, yang kemungkinan diperoleh dari Rusia oleh seorang dokter Jerman bernama Dr Johann P. Breyn. Sayangnya, seperti pada cerita mantel kulit di atas, spesimen ini telah hilang dan tidak diketahui keberadaannya.

Pada zaman yang lebih modern, telah ada spekulasi bahwa kisah tanaman Anak Domba Tartary mungkin berasal dari kesalahan identifikasi tanaman yang sekarang dikenal sebagai pakis wol aka penawar jambi (Cibotium barometz), yang memiliki rimpang berbulu, atau batang bawah tanaman yang telah dimodifikasi, so, itu tentu saja bisa menyerupai anak domba jika daunnya dilepas dan di posisikan terbalik. Memang, dua spesimen domba nabati yang masih bertahan, satu di Garden Museum di London dan satu lagi di Natural History Museum London, dianggap palsu karena dengan cerdik dibuat dari pakis wol, meski tidak dipamerkan di depan umum dan belum diteliti dengan benar karena alasan telah terlalu tua dan rapuh, jadi sulit untuk mengidentifikasinya dengan pasti.

Spesimen yang di duga dari tumbuhan Anak Domba Tartary
Spesimen yang di duga dari tumbuhan Anak Domba Tartary

Sementara gagasan pakis wol tentu menarik, masih belum menjelaskan banyak laporan tentang domba nabati ini yang konon mampu bergerak dan bisa merumput sendiri, sekarat saat dipisahkan dari tanaman inangnya, atau memiliki bulu wol yang bisa dijadikan pakaian dan dagingnya yang rasanya seperti madu, semua yang hadir dalam laporan ini tidak bisa di kaitkan dengan jenis tumbuhan pakis yang dikenal. Sementara tentu saja gagasan tentang keanehan botani semacam itu benar-benar ada mungkin tampak tidak masuk akal, kita bertanya-tanya apa yang bisa memulai kisah menakjubkan semacam itu, dan jika tanaman seperti itu memang ada, namun tentu saja kita membutuhkan segenggam kebenaran yang bisa menjadi jantung dari semua jawaban. Kita mungkin tidak pernah tahu, dan Anak Domba Tartary masih merupakan misteri yang tidak terpecahkan.

Rumput berbunga burung
Masuk ke wilayah yang mungkin lebih aneh lagi, kita sampai di sebuah kisah yang nampaknya sangat sangat mungkin hanya merupakan mitos belaka. Terkubur dalam sebuah karya kuno yang direkonstruksi oleh Una Woodruff pada tahun 1979, yang disebut Inventorum Natura: The Expedition Journal of Pliny the Elder, adanya laporan tentang tanaman yang sangat aneh. Volume tersebut seharusnya berisi katalog keajaiban alam dari seorang naturalis Romawi Pliny the Elder selama 3 tahun perjalanan dia berkeliling dunia yang dikenal saat itu, dan di dalam halamannya ada deskripsi tentang jenis rumput ajaib dari daratan Asia, dimana bunganya dikatakan bisa berubah menjadi burung berwarna-warni kecil yang bisa terbang saat telah mekar. Burung-burung ini dikatakan sangat mirip dengan burung nyata dan bisa bertindak secara independen, namun saat dibedah menunjukkan bahwa burung-burung tersebut secara anatomis masih merupakan makhluk botani (Tumbuhan). Tanaman aneh ini disebutkan dalam sebuah karya tahun 1667 oleh Athanasius Kircher yang disebut China Illustrata, di mana digambarkan sebagai berikut:

Di Provinsi Sichuan dikatakan seekor burung kecil terlahir dari bunga yang disebut Tunchon, sehingga orang Tionghoa menyebutnya Tunchonfung. Orang Cina mengatakan bahwa burung ini memiliki nyawa yang sama dengan kehidupan bunga itu, bunga dan burung itu mati pada saat bersamaan. Burung itu memiliki beragam warna. Saat terbang dan mengepakkan sayapnya, burung itu tampak seperti bunga indah yang terbang melintasi langit.

Seorang cryptozoologist Karl Shuker telah menulis tentang bunga-bunga anomali ini, dan telah berteori bahwa ini bisa menjadi legenda yang lahir dari kesalahpahaman bahwa burung-burung kecil yang suka nektar seperti burung kolibri atau burung pesiar berasal dari bunga itu sendiri. Shuker telah menulis tentang teori ini:

Ada kemungkinan bahwa spesies sunbird (nectariniid). Berasal dari Afrika, Asia (termasuk Provinsi Sichuan di China), dan Australasia, burung-burung sunbird kecil, sangat berwarna cerah, dan secara ekologis meski tak terkait dengan burung kolibri. Dengan makanan utama pada nektar, terlebih lagi, mereka menghabiskan banyak waktu mereka sedemikian dekat dengan bunga sehingga hubungan intim ini mungkin telah mengilhami keyakinan salah bahwa burung mungil ini lahir dari bunga-bunga.

Representasi artistik tanaman burung
Representasi artistik tanaman burung


Rumput Pemangsa
Beberapa tanaman misterius dengan mitos yang lebih jauh tentang alam adalah salah satu jenis rumput legendaris yang umum ditemukan di Irlandia, disebut Féar Gortach, atau "Rumput Lapar." Sering dikatakan sebagai tumbuhan angker atau di bawah pengaruh semacam entitas gaib seperti peri, Rumput Lapar dikatakan menyebabkan kelaparan yang tak terpuaskan, bahkan mungkin kelaparan, dan kelemahan mendalam pada siapa saja yang melewatinya, dengan satu-satunya cara untuk lewat dengan aman adalah membawa makanan. Dalam beberapa versi cerita, rumput ini digambarkan agak seperti ular, dan secara aktif akan melilit dan membungkus orang-orang yang tidak waspada. Rumput tersebut juga dikatakan merusak dan memakan tanaman lain. Dalam sejarah  pengetahuan yang ada bahwa sangat mungkin mitos rumput lapar ini disandarkan dari tragedi musibah paceklik kentang Irlandia di tahun 1840-an. Di beberapa daerah, seperti tempat bernama Hungry Hill, rerumputan itu konon sangat banyak sehingga dianggap sebagai tempat kematian dimana orang-orang yang masuk ke wilayah tersebut akan sulit untuk menemukan jalan keluar dan bahkan tidak pernah kembali.

Teratai pemakan manusia
Juga ada beberapa kisah tentang tanaman pemakan manusia, keanehan lainnya yang pernah saya tulis disini sebelumnya (Anda bisa membacanya di link yang saya sertakan di akhir artikel). Salah satunya adalah apa yang disebut "Man-Eating Lotus of Nubia," yang merupakan sebuah tanaman teratai besar yang diketahui dapat memikat mangsa dengan buahnya yang manis dan lezat, hanya untuk membunuh dan mengkonsumsinya. Dalam catatat perjalanan tahun 1881 yang berjudul Under the Punkah, penjelajah Phil Robinson menceritakan bagaimana salah satu dari tanaman pemakan manusia ini menyerang pamannya. Pamannya tersebut dilaporkan telah menghabiskan peluru senjata api-nya untuk menembaki pohon yang haus darah itu, setelah itu dia memotong dahannya dengan pisau saat pohon tersebut menyambar dan menusuknya dengan dahan dan ranting. Akhirnya dia bisa lepas dan selamat, tapi salah seorang pemandu pribadinya tidak begitu beruntung, ia tewas dimakan teratai gila itu. Robinson menggambarkan Lotus Man-Eating demikian:

Tanaman yang mengerikan ini, menghiasi megahnya kematian berada dalam keheningan di tengah hutan pakis Nubia, sakit dengan ketidakbajikannya semua tanaman yang tumbuh di sekitarnya menjadi tidak sehat, dan makan layaknya binatang buas, dalam teror yang mengejar, atau panas siang hari, mencari tempat berteduh yang lebat. Burung-burung yang melayang melintasi ruang terbuka, masuk ke dalam lingkaran kekuatannya yang mempesona, atau dengan tidak sadar menyegarkan diri dari cangkir bunga lilin yang hebat; bahkan pada diri manusia sendiri ketika, mangsa yang jarang, kebiadaban mencari tempatnya dalam badai, atau berbalik dari rumput pedang yang dilanda luka keras dari rawa, untuk memetik buah menakjubkan yang menggantung di antara dedaunan yang menakjubkan. Dan buah seperti itu! Oval emas yang indah, tetesan madu yang besar, membengkak oleh beratnya sendiri menjadi tembus pandang berbentuk pir. Dedaunan itu berkilauan dengan embun yang aneh, yang sepanjang hari menetes ke tanah di bawah, yang menumbuhkan rerumputan, melayang di tempat-tempat yang begitu tinggi sehingga lonjakan duri-duri hijau yang diberi makan darah terlihat di antara yang berwarna-warni. dedaunan pohon yang mengerikan, dan, seperti penjaga tubuh yang cemburu, tetap menyembunyikan rahasia mengerikannya dari rumahnyal di dalam, dan menarik putaran akar hitam tanaman pembunuh itu sebuah tampilan hijau hidup yang terhormat. (Saya tidak mengerti apakah Phil Robinson ini seorang penjelajah atau seorang sastrawan, bahasa tulisannya sangat puitis)

Well emosi muda,.. Di dunia hijau kita ini mungkin akan selalu ada keajaiban dan kekaguman tertentu yang terkait dengan pepohonan dan tumbuhan di bumi kita ini. Sama seperti mereka yang telah menelurkan legenda, mitos, dan cerita aneh, mereka juga tampaknya memiliki misteri yang mengisyaratkan kita dari luar pemahaman kita. Dengan catatan yang telah kita lihat di sini, adakah kebenaran yang berbaring di dasar anomali ini? Dari mana cerita-cerita ini berevolusi, dan apakah mereka berdasarkan pada kebenaran atau hanya sekedar hoax sebagai cerita dongeng sebelum tidur? Kita mungkin tidak pernah tahu, yang kita temui saat ini hanyalah tumbuhan penghasil oksigen, makanan, plus pendingin alami di bumi kita yang semakin hari jumlah mereka semakin berkurang, mereka mengilhami kekaguman kita kepada sang pencipta. Apapun itu, di akhir artikel ini saya ingin menitipkan satu pesan. Semua tanaman ini adalah unik dan berharga, mereka adalah aset masa depan bagi manusia dan hewan di masa depan, jadi sudah merupakan tugas kita bersama untuk menjaga dan melestarikannya. Yuk mari menanam pohon, mari kita hijaukan kembali dunia kita. Semoga bermanfaat dan Wassalamualaikum.

Baca Juga; Tanaman Haus Darah

Posting Komentar