Adalah sebuah kuntum yang bergejolak diantara jejak-jejak kuas diatas kanvas.
Ini mungkin sebagai helaan terakhir dari warna-warni pelangi
pelangi yang bermaharajalela di malam bergemuruh yang hanya tampak jika petir menyambar.
Maka mimpi yang manakah yang akan kau janjikan?
Jika sang penguasa waktu telah melirihkan apa yang diharap menyenangkan
terus kemudian yang terdengar hanya alunan biola panjang pertanda kematian akan segera berkumandang.

Wahai malam berselimut api
adakah makna dari kilau emas yang dipaksakan untuk menjadi suci?
Atau hanya sebuah lingkaran perjanjian yang harus dikhianati?
Karena memang begitulah seharusnya.
Harus atau mati!
Agar setiap kelopak melati tak berganti menjadi hitam karena api

Aku ingin bertanya
Dimanakah letak bersarangnya gagak rimba yang merangkai puisi?
Dimanakah tempat dibariskannya lembar-lembar rahasia pujangga?
Dan kapan semua bait-bait itu dihantarkan kepada Tuhan pemilik semesta?
Dan mengapa setiap gagak yang mengantarnya selalu jatuh dan mati,
tanpa sempat menyatakan salam damai hari ini?

Dasar bodoh!
Sejak kapan sajak-sajak ini berarti?
Bukannya sebuah nisan tua akan terlupakan?
Begitu juga halnya gurun sepi yang dibenci
tak ada bedanya dengan langkah-langkah dalam gulita yang tak perlu diingat.

Maka..! pulanglah wahai kertas kusam
Tuanmu akan menulisnya kembali
dengan kata-kata rayuan yang lebih keras, lebih marah dan lebih benci
sebelum kau dibakar oleh waktu
sebelum angin musim hujan menggunjingmu
setelah semua itu kau akan menjadi abu

Hai manusia tidak berguna!
terkadang Tuhan tidak seperti yang engkau fikirkan
oleh sebab itu taqdir tak dapat kau perhitungkan
lantas kuatlah! Karena kau terbiasa dicaci-maki
bahkan semua sumpah serapah itu layak untukmu
kecuali kau dapat membeli semua itu
kecuali kau dapat membeli semua itu
kecuali kau dapat membeli semua itu.

Posting Komentar