Leopard Man, Kultus Para Pembunuh Misterius

Leopard Man, Kultus Para Pembunuh Misterius

Halo emos muda,.. Assalamualaikum. Beberapa manusia tampaknya selalu memiliki kultus aneh yang bersembunyi dalam bayangan di pinggiran masyarakat. Beberapanya mungkin memiliki praktek yang mainstream untuk menemukan pencerahan, kesejatian, atau bahkan sekedar menikmati omong kosong yang memuakkan dengan janji-janji guru sejati yang di ikuti oleh orang-orang bodoh yang telah di dogma hingga melumpuhkan akal sehat mereka sendiri, namun kemudian ada dari mereka yang terlampau jauh melangkah, merayap dalam bayang-bayang untuk membawa kematian, kadang-kadang mereka juga sering mengaburkan batas antara realitas dan kegaiban. Dan dari banyak kultus sekte tersebut, salah satunya pernah berkeliaran di malam hari di padang gurun Afrika, mereka memegang gurun sepi ini dalam api cengkeraman teror, menebar imajinasi seram dan ketakutan dalam hati kolonialis Barat, dan masuk kedalam pikiran orang-orang yang menyelidiki kemampuan mereka untuk membunuh tanpa terdeteksi dan kemungkinan bahwa mereka memang memiliki kekuatan kasat mata yang berjubah dalam kegelapan, dengan kemampuan yang dikenal untuk berubah menjadi macan tutul. Ini adalah kultus macan misterius Afrika yang akan muncul menerkam dari kegelapan untuk membunuh lagi dan lagi, dan tetap menjadi salah satu kasus yang paling aneh dan hanya sedikit yang dipahami, dan hingga hari ini aktivitas kultus supranatural ini masih belum terselesaikan dalam sejarah karena sulitnya untuk memahami semua ritual pembunuhan supranatural mereka yang bercokol di benua hitam Afrika.

Leopard Man
Dimulai pada era tahun 1870-an, serentetan pembunuhan mengerikan mulai terjadi di tanah tandus Afrika, di alam liar di daerah pedesaan wilayah jajahan koloni Perancis, Libreville, Gabon. Banyak mayat korban ditemukan dengan penampilan mengerikan, rusak fatal yang sepertinya dilakukan oleh binatang buas yang menakutkan, dengan luka di seluruh tubuh yang kadang-kadang bahkan anggota tubuh juga hilang, dan terkadang juga sebahagian mayat-mayat itu dipenggal. Penduduk setempat menjadi ketakutan dan semakin panik karena korban-korban pembunuhan ini ditemukan dengan kondisi yang sangat menakutkan, dan meskipun pihak berwenang pada awalnya menyalahkan tragedi kematian ini pada serangan hewan, namun segera menjadi jelas setelah penduduk setempat mulai faham apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Serentetan pembunuhan ini mulai semakin perhatian pihak berwenang dan mereka mulai mencari tahu tentang kabar yang sudah cukup lama ada di wilayah ini tentang kultus biadab kanibal misterius yang dikenal sebagai Leopard Men, yang dikatakan mempraktekkan perkerjaan gelap mereka serta menyebarkan teror. Leopard Man diyakini oleh penduduk setempat memiliki kekuatan untuk benar-benar bisa mengubah diri mereka menjadi seekor macan tutul atau hibrida setengah macan tutul, mereka menyerap berbagai kekuatan supranatural melalui minuman ramuan sihir yang disebut borfima, yang terbuat dari seduhan darah dan organ internal korban mereka. Ini adalah keyakinan yang cukup umum di seluruh Afrika pada saat itu, di mana ada anggapan bahwa dengan memakan anggota tubuh musuh mereka maka bisa memberi mereka kekuatan, kepercayaan sihir dan kekuatan roh adalah hal biasa saat itu, dan di mana banyak orang-orang tertentu yang dipercaya memiliki kemampuan untuk berubah menjadi hewan yang tangguh, termasuk singa, babon, macan tutul atau buaya. Beberapa sekte ini kurang dikenal seperti sekte baboon dan sekte buaya yang menunggu di kegelapan belantara, mereka meniru gaya pembunuhan hewan yang mereka pilih. Macan tutul khususnya telah lama dianggap sebagai simbol dari hewan yang kuat yang dipercaya bertanggung jawab untuk membimbing orang mati.

Pemerintah kolonial Perancis saat itu tidak percaya dengan kemampuan magis ini, mereka menganggapnya sebagai mitos belaka dan bukan benar-benar berubah menjadi macan tutul. Seorang anggota kultus mungkin akan memakai jubah macan, yang terbuat dari kulit macan tutul, dan berangkat pada malam hari dengan dipersenjatai cakar yang terbuat dari baja tajam, yakni baja bergerigi, dan kadang-kadang mengenakan alas kaki yang dirancang untuk meninggalkan jejak seperti jejak kaki leopard. Ketika mereka menemukan korban yang dianggap cocok, para korban ini biasanya kebanyakan adalah mereka yang bepergian sendirian di malam hari, maka Leopard Man akan menerkam dari kegelapan dan menyerang dengan cara binatang buas, menggigit kejam dan mencakar hingga bermandikan darah dan organ dalam tubuh. Ketika korban akhirnya tewas, maka organ-organ tubuhnya dan beserta darahnya dikumpulkan untuk tujuan ritual kanibalisme untuk membuat ramuan dimana ritual ini dipercaya sebagai asal dari kekuatan mereka. Seorang dokter misionaris yang bekerja di Liberia pada tahun 1930-an dengan nama Dr. Werner Junge menjelaskan tentang serangan Leopard ini:

"Ada kejadian, di atas tikar di sebuah rumah, saya menemukan mayat mengerikan yang dimutilasi, korban seorang gadis berusia lima belas tahun. Leher robek oleh gigitan dan cakar hewan, usus robek keluar, pinggul hancur, dan sebelah pahanya hilang. Sebelah bagian dari pahanya, digerogoti sampai ke tulang, dan sepotong tulang tergeletak di dekat tubuhnya. Tampaknya pada pandangan pertama ini adalah pekerjaan binatang buas jika dilihat pada luka di tubuh gadis itu, tapi penyelidikan lebih lanjut membawa kepada dugaan lain. Saya mengamati ini, misalnya, bahwa kulit di tepi bagian dada robek oleh luka aneh sekitar satu inci panjangnya. Hatinya juga telah dikeluarkan dari tubuh dengan cara yang rapi yang tidak mungkin binatang bisa melakukannya".

Leopard Man, Kultus Para Pembunuh Misterius

Para korban sendiri umumnya laki-laki dan perempuan dari segala usia dan dari semua lapisan masyarakat, tewas sebagai korban untuk menenangkan roh-roh jahat ketika kemalangan muncul, atau sebagai balas dendam terhadap serangan ilmu hitam, penindasan, atau bahkan hanya karena masalah sepele. Meskipun secara historis Leopard Man ini jarang terbunuh, namun pembunuhan di Gabon mengalami peningkatan dramatis dalam aktivitas berdarah mereka dan tidak ada yang cukup yakin tentang alasan kuat dibalik semua tragedi berdarah itu. Pembunuhan aneh ini terus terjadi di Gabon selama hampir tiga tahun, orang-orang disergap di kegelapan malam oleh manusia berpakaian macan tutul dengan cakar berkilauan, hal ini membingungkan penguasa kolonial sampai suatu saat tiba-tiba tragedi ini terhenti dengan sendirinya. Namun, itu bukanlah akhir dari pekerjaan jahat kultus Leopard Man ini. bahkan ini baru saja dimulai. Pada tahun 1890-an, pembunuhan misterius kembali mewabah, kali ini di Nigeria, sebelum akhirnya menyebar seperti api ke negara-negara lainnya seperti Sierra Leone, Liberia, Pantai Gading, dan Tanzania, dan kegiatan menakutkan kultus ini bertahan dan tumbuh semakin lebih berani dalam abad ke-20. Meskipun wabah pembunuhan Leopard Man ini tak lama setelah Perang Dunia I, antara tahun 1914 dan 1918, namun tragedi ini berakhir dengan sangat mengerikan, tindakan keras segera diambil pada kultus ini, penangkapan massal dan eksekusi dilakukan. dan sepertinya mereka telah habis, namun ternyata mereka hanya bersembunyi sesaat dan kembali menebar teror lebih luas dari sebelumnya.

Kultus Leopard Man Menyebar
Negara yang sangat terganggu oleh kemunculan kembali kultus jahat ini adalah Sierra Leone, Liberia, dan Nigeria. Memang, di sekitar akhir Perang Dunia II, Nigeria begitu dicekam oleh pembunuhan tanpa henti yang dilakukan oleh Leopard Man hingga negara itu kadang-kadang disebut oleh orang yang tahu sebagai negerinya "Leopard Land." Selama rentang waktu hanya dalam dua tahun, 1945-1947, Nigeria menjadi adegan ritual pembunuhan yang dilakukan Leopard Man dengan total sebanyak 81 pembunuhan, yang dalam banyak kasus hampir tidak bisa dibedakan antara kebiadaban mereka dan serangan binatang buas, kecuali untuk tanda khas yang mereka tinggalkan, semacam potongan presisi yang dibuat oleh cakar baja. Saat itu kultus aneh dan pembunuhan misterius di benua hitam ini mulai tercium ke dunia luar dan memicu imajinasi publik, dengan cerita-cerita dari Leopard Man yang tampil di seluruh surat kabar utama di Eropa, di mana salah satu reporter menggambarkannya sebagai "pemburu nyawa terbesar di dunia." Dan bagi masyarakat pada umumnya, anggapan tentang komplotan jahat dari pembunuh yang menyamar sebagai macan tutul ini terkait dengan kekuatan supranatural, dan dikelilingi oleh mitos dan sihir yang beroperasi di benua Afrika, serta persepsi masyarakat yang sudah tersebar luas tentang Afrika yang dianggap sebagai tanah yang gelap dan buas. Cerita-cerita dari Leopard Men muncul dalam budaya populer di seluruh tempat, termasuk di dalam buku, komik, dan karya-karya terkenal seperti Tarzan. Sementara itu, bagi orang-orang Nigeria sendiri, Leopard Man adalah ancaman yang sangat nyata. Negara itu menjadi rumah bagi para kultus penjagal, yang melakukan teror mencekam di semua lapisan masyarakat, menabur kekacauan dan kegilaan. Salah seorang pejabat kolonial yang sangat mengkhawatirkan urusan ini berkata:

"Tahap sekarang ini telah mencapai ketika setiap orang laki-laki dewasa bisa jadi adalah macan tutul pembunuh, macan tutul asli berkeliaran disemak tebal, dengan 6 kaki tinggi yang jejak mereka dikelilingi debu. Tapi 'pria macan tutul' ini dengan keyakinan buta dalam kultus primitif mereka, sekarang mengambil nyawa manusia lebih dari satu dalam seminggu di Afrika".

Leopard Man, Kultus Para Pembunuh Misterius

Kekerasan, kematian aneh dan penampakan Leopard Man misterius ini menjadi begitu luas di Nigeria dan pihak yang berwenang memulai kampanye tanpa henti untuk mencoba membasmi mereka. Para pasukan bersenjata disebar, khususnya di wilayah yang paling parah, di Opobo, lebih dari 200 pria bersenjata terjun dengan misi memburu para pembunuh bercakar baja. Selain itu, jam malam yang ketat diberlakukan, karena Leopard man biasanya selalu menyerang dalam kegelapan malam. Patroli polisi bersenjata berjaga-jaga di seluruh wilayah pedesaan. Bahkan ada upaya lain untuk membuat perangkap macan tutul, walau dalam hal ini mereka tahu bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh manusia. Bahkan dengan semua tindakan pengamanan ini, pembunuhan terus berlanjut, dan memang, kultus Leopard Man tampaknya menjadi lebih berani dari sebelumnya. Patroli sering mendengar jeritan dari orang yang ketakutan dari semak-semak disaat mereka dengan kejam dibantai oleh kultus jahat tersebut, kadang-kadang malah terjadi hanya beberapa ratus meter saja dari pos polisi, dan pada beberapa kesempatan malah petugas patroli sendiri yang menjadi korban pembunuhan ini. Leopard Man memiliki keyakinan penuh dalam kemampuan supranatural mereka, mereka dipercaya bahwa mereka kebal terhadap peluru, dan mampu untuk melarikan diri tanpa terdeteksi saat malam hari. Beberapa dari tindakan pembunuhan berdarah yang dilakukan oleh kultus ini dilakukan terang-terangan didepan pasukan pemerintah, dengan seorang korban wanita muda yang dibantai tepat di dalam kompleks polisi sendiri sebelum pembunuh itu menghilang ke alam liar nan gelap. Selain itu, beberapa korban mulai ditargetkan dibunuh di siang hari, pembunuhan itu terus terjadi dan membuat pasukan kemanan sangat kewalahan, hingga sampai ke titik di mana polisi dan pihak berwenang pada umumnya mulai percaya bahwa Leopard Man mungkin benar-benar memiliki kekuatan magis.

Kemampuan mengerikan dari Leopard Man yang diam-diam muncul dari bayang-bayang untuk lantas membunuh dan kemudian menghilang tanpa jejak, menjadikan mereka sulit sekali untuk ditangkap, serta pilihan acak korban mereka menyulitkan investigasi, dimana polisi tidak mampu untuk mengumpulkan setiap petunjuk atau informasi yang berguna tentang siapa mereka, apa yang mereka inginkan, atau di mana mereka akan menyerang, itu semua membuat frustasi bagi polisi untuk menyelidikinya. Ditambah lagi fakta yang meresahkan bahwa sebagian pembunuhan itu dipercaya memang dilakukan oleh macan tutul yang asli, banyak hal yang mengganggu untuk melacak semua ini. Menambah tantangan yang dihadapi dalam penyelidikan adalah faktanya banyak saksi yang telah dicengkram oleh rasa takut yang mendalam hingga menimbulkan kesalahpahaman. Penduduk setempat tidak bersedia untuk bekerja sama atau memberikan informasi tentang Leopard Man kepada pihak berwenang, karena mereka benar-benar percaya bahwa ini semua adalah pekerjaan ahli-ahli sihir yang bisa saja akan membunuh mereka jika mereka mengatakan apa-apa tentang masalah tersebut. Penduduk lokal tinggal di dalam ketakutan yang mereka pikir para ahli sihir dan pengguna ilmu hitam terus-menerus mengawasi mereka di malam hari, rasa ketakutan itu cukup untuk mencegah segala macam kerjasama dengan polisi untuk membantu melacak para pembunuh berjiwa setan itu.

Leopard Man, Kultus Para Pembunuh Misterius

Selanjutnya, potongan bukti tertentu, seperti jejak macan tutul, otomatis diasumsikan sebagai jejak kultus Leopard Man, apakah itu benar atau salah, tidak bisa dipastikan. Jika ditemukan mayat yang hancur yang dikelilingi oleh bekas jejak kaki macan tutul, maka akan langsung diasumsikan bahwa pelakunya adalah kelompok Leopard Man, meskipun serangan macan tutul yang asli pada manusia tidak pernah terjadi di hari-hari tersebut. Karena memang ada beberapa macan tutul asli pemakan manusia yang ditemukan di desa-desa Afrika selama ini, dan karena fakta iklim tropis Afrika bisa menyebabkan kerusakan mayat yang cepat sering mengakibatkan ketidakpastian apakah luka yang ditimbulkan itu dilakukan oleh macan tutul yang nyata atau Leopard Man, dan tidak ada cara pasti untuk membedakan siapa yang benar-benar telah membunuh. Hal ini semakin mempersulit penyelidikan, dan setidaknya mungkin ada beberapa serangan yang mungkin dilakukan oleh macan tutul yang asli, namun tanpa diragukan lagi telah menyebabkan dugaan bahwa korban sebenarnya telah dibunuh oleh Leopard Man.

Eksekusi Dan Fitnah
Menghadapi musuh yang sulit dipahami dan misterius, dengan tidak adanya bukti nyata, pemimpin, atau penangkapan yang solid, serta ketidakpastian dan banyaknya pembunuhan yang bisa langsung dikaitkan dengan kultus tersebut, mengakibatkan polisi merasa putus asa, mereka mulai melakukan penangkapan massal orang-orang yang mereka anggap mencurigakan. Banyak penduduk setempat yang mungkin merasa dendam terhadap tetangga mereka, lantas menggunakan alasan ini untuk memberikan petunjuk yang salah kepada polisi, dengan menempatkan kulit macan tutul atau topeng macan di rumah musuh-musuh mereka agar mereka ditangkap dengan tuduhan sebagai Leopard Man, di mana mereka biasanya akan hidup merana di dalam penjara lembap tanpa pengadilan. Dan fitnahpun akhirnya merajalela. Tidak ada yang tahu apakah mereka yang ditangkap Leopard Man asli atau tidak. Dalam beberapa kasus, massa diorganisir, dan pihak berwenang berharap bahwa dengan dilakukannya eksekusi maka akan menyebarkan berita ke seluruh desa-desa di daerah dimana Leopard Man berada, eksekusi sebagai balasan atas daging dan darah orang-orang yang telah dibunuh, serta mengirim pesan untuk kultus jahat itu yang berfungsi sebagai pencegah terhadap pembunuhan lebih lanjut. Sayangnya, semua pesan ini hadir dengan mengorbankan kehidupan banyak orang yang hampir dipastikan tidak bersalah. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dilakukan terang-terangan hanya untuk menangkap dan menghukum sesuatu yang tampaknya tidak terlihat, musuh yang tak terkalahkan. Seorang perwira kolonial bernama Johnnie McCall merasa sedih dengan semua eksekusi itu, ia menyatakan:

"Hancurnya keadilan telah terjadi dan orang-orang yang tidak bersalah telah digantung. Saya takut dengan metode penyelidikan seperti ini, kehancuran akan terus menyebar. Meskipun dengan teliti dan Kehakiman Ademele telah mengetahui kasus ini, tapi saya mendengar yang dihukum mati di pagi lainnya adalah seorang pria yang saya percaya tidak bersalah"

Selanjutnya para otoritas mulai meletakkan perangkap untuk menangkap kultus ini dengan menggunakan umpan manusia. Dua orang petugas berpakaian seperti anak perempuan desa berjalan di sepanjang jalan pedesaan yang gelap di malam hari, di wilayah yang banyak mengalami serangan kultus ini, sementara sekelompok polisi bersenjata berbaring menunggu dibalik tumpukan semak-semak. Pada awalnya, tidak ada yang terjadi selama beberapa waktu, sehingga mungkin mereka bosan dan sampai pada mereka terkejut ketika ada suara jeritan meminta tolong yang diikuti oleh penampakan seorang pria berjubah leopard yang sedang menyerang pada pasangan polisi yang menyamar sambil mengacungkan sesuatu yang tampaknya adalah cakar. Salah seorang petugas polisi bergegas membawa pisau untuk membantu pasangan itu dan bertarung dengan penyerang, Leopard Man sempat berbalik pada dirinya dan menghantam keras dibagian kepala polisi itu dengan cakar baja sebelum akhirnya berlari kembali ke dalam kegelapan. Sayangnya, petugas itu terbunuh oleh pukulan keras cakar baja milik penyerang, tetapi ditemukan bahwa pisau itu telah berlumuran darah, yang berarti bahwa ia juga telah melukai penyerang misterius tersebut.

Kejatuhan Kultus Leopard Man
Polisi mulai menyebar untuk mencari penyerang misterius yang telah terluka itu, salah seorang petugas punya ide dan memutuskan untuk menunggu di dekat mayat daripada memindahkannya. Ia menduga bahwa bahwa penyerang tersebut akan kembali untuk menyelesaikan ritual pembunuhannya. Dan kembali petugas menunggu di semak-semak sekali lagi, dan dugaan itu benar, beberapa saat kemudian mereka melihat Leopard Man menyelinap keluar dari semak-semak dan merangkak menuju ke arah mayat polisi tersebut seperti binatang. Untuk sesaat, petugas sempat berpikir bahwa itu mungkin seekor macan tutul yang tertarik pada bau darah mayat, tapi setelah diamati lebih jelas, bisa terlihat di bawah sinar rembulan bahwa yang sedang merangkak itu memang seorang manusia berselimut jubah panjang dengan cakar baja berkilauan. Leopard Man itu terus mendekati ke mayat polisi yang tergeletak tersebut dan mulai merobek-robek mayat tersebut dengan cakarnya. Petugas yang sedang bersembunyi segera keluar untuk menghadapi pembunuh itu, yang dilaporkan ia sempat menggeram seperti seekor binatang liar. Petugas polisi pun kemudian mencabut pistol dan menembak mati Leopard Man.

Ini adalah insiden pertama yang diketahui dimana seorang penganut kultus misterius ini dibunuh, kejadian ini juga sebagai bukti kuat keberadaan mereka dan juga berperan dalam kejatuhan kultus ini. Kematian Leopard Man segera dipublikasikan, masyarakat mulai menyadari bahwa mereka ini bukanlah makhluk mistis yang anti peluru yang diselimuti dengan kekuatan magis, dan mereka bisa dibunuh. Akibatnya, ada lebih banyak orang bersedia untuk maju dengan informasi yang berguna yang akan membantu kepolisian untuk menyelidiki mereka. Salah satu bagian dari informasi yang penting adalah tentang adanya sebuah kuil rahasia yang tersembunyi jauh di dalam hutan. Sebuah ekspedisi dikirim ke sana dan ditemukan pemandangan mengerikan dari batu altar gelap besar dengan noda darah, serta patung besar Leopard Man menjulang di atasnya dengan banyak tulang manusia yang bertaburan di lantainya. Penduduk setempat mulai berani dan kesaksian semakin meningkat yang mengarah pada penangkapan lebih dari 70 anggota kultus tersebut, 40 orang di antaranya dieksekusi di depan umum dalam rangka untuk menyebarkan berita bahwa mereka hanyalah binatang, manusia jahat, dan tidak lebih dari itu. Meskipun Leopard Man masih terus beroperasi di wilayah tersebut hanya dalam beberapa kapasitas, namun pembunuhan sporadis masih terjadi dari waktu ke waktu hingga di kisaran era tahun 1980-an, perburuan, penangkapan dan eksekusi dianggap telah mengakhiri kultus dan teror mereka, serta menghancurkan kekuatan mereka yang telah lama bercokol di Afrika Barat dan memaksa sisanya untuk tetap bersembunyi.

Leopard Man telah meninggalkan banyak pertanyaan pasca kejatuhannya. Siapa mereka? Mengapa mereka melakukan ini? Apa yang menyebabkan mereka untuk keluar adalah sebuah ketidakjelasan relatif dengan pembunuhan mereka di Afrika Barat? Mengapa mereka membunuh di satu daerah atau satu negara hanya untuk berhenti dan kemudian melanjutkan di lain waktu dan lain negara? Sebagian besar ada anggapan bahwa munculnya Leopard Man karena dorongan atas ketidakpuasan dari penjajahan bangsa Eropa di Afrika pada saat itu, dan kedatangan orang-orang Eropa telah menganggu kebiasaan suku tradisional dan membuat pergolakan cara hidup mereka yang akhirnya memprovokasi munculnya kultus ini dengan berbagai cara pemberontakan mereka. Dengan meningkatnya kolonialisme, keseimbangan kekuatan tradisional berada di ujung tanduk, dengan para pemimpin suku dan elit sosial yang suka bertengkar untuk mempertahankan kekuasaan dalam bayang-bayang penindas Eropa. Hal ini pada gilirannya menjadi daya dorong bagi Leopard Man untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka, untuk mencukupi kebutuhan mereka akan pengorbanan manusia yang dipercaya bisa menolak bala yang datang dari bangsa kulit putih, melestarikan keseimbangan, menjaga status quo, dan menghilangkan saingan. Tampaknya ada bukti tentang hal ini, dimana intensitas kegiatan Leopard Man sering berhubungan langsung dengan jumlah kehadiran kolonial di setiap daerah tertentu. Seiring pembunuhan terus berlanjut, kultus ini akan menjadi lebih berani, dan akhirnya pembunuhan akan berputar di luar kendali, hingga pembunuhan berubah menjadi sebagai kekuatan untuk menjatuhkan kekuasaan kolonial asing. Hal ini sangat mungkin bahwa seluruh masalah bisa saja lebih diperparah dengan adanya pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah klasik assassins di persia. Dan ditambah lagi dengan menggunakan kultus tersebut sebagai alasan untuk memfitnah dan memuaskan haus darah sadis mereka sendiri.

Leopard Man tercatat dalam tinta merah sejarah sebagai salah satu sekte yang paling misterius, sulit dipahami, dan sekte haus darah yang pernah ada. Tampaknya mungkin akan selalu menjadi perkumpulan rahasia yang berada di luar tepi masyarakat di suatu tempat. Dalam beberapa kasus, kita mendapat beberapa pemahaman tentang tujuan atau cara-cara mereka, tetapi dalam kasus lain kita akan cenderung selalu dalam keadaan gelap tanpa jawaban yang pasti. Mereka adalah orang yang mungkin untuk selamanya menghindari untuk difahami dan dikenal. Dalam Leopard Man kita melihat bahwa sebuah kultus mungkin tak pernah benar-benar bisa ditundukkan oleh kekuatan-kekuatan yang mencoba untuk menjinakkan mereka. Mereka tetap berada dalam bayang-bayang, menunggu dan merencanakan untuk membunuh lagi. Mungkin saja mereka masih melakukannya hingga hari ini. Semoga menambah pengetahuan anda dan Wassalamualaikum.

G+

Seorang yang cukup gila dalam sisi lain kehidupan, yang jelas saya normal dan please jangan banyak protes :p, visit my FACEBOOK

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments
24 Februari 2016 23.19 delete

Gila coi ngeri gila pembunuhnya

Reply
avatar

Saya sangat mengharapkan feedback dari pembaca mengenai postingan yang saya tampilkan. Komentar yang anda tulis harap di ketik dengan bahasa yang sopan, apabila saran dalam bentuk kritikan adalah kritikan yang membangun. Tidak meninggalkan link aktif, spamming (I do hate that), ataupun komentar yang tidak berhubungan dengan postingan.