Di Korea, Anda bisa menyewa teman palsu untuk pernikahan anda

Di Korea, Anda bisa menyewa teman palsu untuk pernikahan anda
Halo emosi muda,. Assalamualaikum. Teman adalah orang-orang yang senantiasa perduli dengan anda, tanpa teman rasanya akan sulit melewati segala aktivitas dalam kesendirian, teman adalah tempat berbagi baik suka maupun duka. Namun apa jadinya jika kehidupan sosial kita saat ini memaksa banyak orang harus menjadi individualis dan bertahan dalam egoistis sehingga menyebabkan sulitnya mendapat teman yang sudi berbagi dengan anda. Misalnya saja di Korea Selatan dimana sebuah pernikahan adalah tonggak kehidupan nyata untuk menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai yang sebenarnya, namun uniknya disana ada industri rumahan yang khusus menyediakan jasa untuk membantu orang-orang nyata menemukan teman palsu sebagai pengisi kursi di ritual kehidupan seperti pernikahan dan pesta perayaan lainnya.

Teman palsu pernikahan
Pada pernikahan baru-baru ini pada bulan Juni lalu, Kim Seyeon muncul sebagai tamu meskipun dia adalah orang asing bagi para pengantin. Dia mendapat sekitar $ 20 per setiap pernikahan yang dia hadiri sebagai teman palsu.

"Ketika itu sedang puncaknya musim pernikahan di Korea, kadang-kadang saya menghadiri dua atau tiga undangan dalam sehari, setiap akhir pekan," kata Kim. Sebagai pemain peran teman palsu, dia bagian dari sebuah lembaga usaha yang mengirimnya untuk menghadiri pesta pernikahan di seluruh negeri. Pada pernikahan ini, setidaknya 30 dari para tamu adalah teman palsu yang dibayar untuk mengisi kursi.

"Ini menyenangkan. Banyak pasangan yang perlu tamu, karena mereka ingin menyelamatkan muka mereka," kata Kim. "Mereka sadar apa yang orang lain pikirkan, dan mereka membutuhkan teman-teman lainnya. Jadi pengantin sangat berterima kasih atas kehadiran saya." Saya kira anda bisa menyebutnya sebagai pernikahan yang sulit, tapi aku hanya berbaur langsung dengan wajah asing lainnya. Logika di Korea Selatan adalah ini adalah anda dapat menyewa kursi dan tempat untuk pernikahan, lantas mengapa tidak untuk tamu?

"Pernikahan dengan cara penyewaan tamu dimulai pada akhir 1990an, dan di awal 2000an, penyewaan peran teman palsu semakin lebih luas," kata Lee Hyun-su. Dia menjalankan sebuah usaha casting di Korea Selatan yang disebut Rental Peran 1-1-9.

Dia memiliki database dari 20.000 pelaku, dengan usia kisaran 21-70, dimana ia menempatkan para pemeran palsu untuk bekerja dalam situasi kehidupan nyata. Kita bicara tentang bos palsu, orang tua palsu dan segala pemeran palsu lainnya. Lee memperkerjakan mereka semua.

"Tahun ini kami telah melihat peningkatan jenis lain dari permintaan sewa, seperti menyewa anggota keluarga, teman dekat, kekasih atau bahkan karyawan kantor. Ada juga kejadian dimana pernah ada orang menyewa pasangan palsu untuk mendapatkan pinjaman dari bank," Lanjut Lee.

Berpura-pura? Who's care?
Walaupun mungkin tampak aneh untuk semua aktor sandiwara ini yang mana seharusnya menjadi tidak seperti itu didalam kehidupan nyata, namun seorang artis Maria Yoon yang berdarah Korea-Amerika juga pernah melakukannya setelah bereksperimen dengan pernikahan dengan proyek seni beberapa tahun yang lalu.

Dia dihadirkan pada 50 upacara pernikahan yang berbeda untuk bermain pada gagasan bahwa semua pernikahan memiliki kenalan dengan mereka. Dia juga merasa takut bahwa orang Korea mengambil langkah ketidakjujuran terlalu jauh.

"Korea memiliki "nunchi" ini," jelas Yoon. Nunchi menggambarkan jenis pemahaman interpersonal diri dibandingkan rekan-rekan anda.

"Jika anda memiliki mobil mewah, dan itu menjadi mobil yang lebih menarik daripada tetangga anda, sehingga anda dapat memberitahu mereka berapa banyak uang yang anda punyai," kata dia. "Seperti saya yang bertambah tua, hidup ini terlalu singkat bagi anda untuk membuat tetangga anda bahagia. Anda hanya perlu membahagiakan diri sendiri."

Bila kita menggali lebih dalam tentang Korea dari sebuah buku baru yang disebut "Korea: The Impossible Country". Di dalamnya, penulis Daniel Tudor menulis bahwa masyarakat Korea Selatan mengidap "hiper-kompetitif" atau tingginya persaingan yang over diantara sesama masyarakat mereka sendiri. 

"Gelombang persaingan dimulai di Korea Selatan sejak ekonomi lepas landas pada tahun 1960 telah membawa perubahan penting. Sekarang, menurut Hwang Sang-min, seorang profesor psikologi di Universitas Yonsei, orang Korea merasa terdorong untuk mencapai sebuah image kesempurnaan, dan bukan hanya kehormatan tetapi juga harus dilihat sebagai hal yang lebih baik daripada yang lain. Semacam 'inflasi wajah' telah terjadi. Orang membangun tentang diri mereka sendiri pada citra publik tentang sosok yang sempurna dan kemudian entah bagaimana mereka harus hidup untuk itu. Sebuah kata yang memiliki pengaruh yang besar di Korea saat ini adalah "jalnancheok", atau 'berpura-pura untuk terlihat baik. "

Kembali ke pembahasan pernikahan, hal itu jelas menampilkan bahwa kebutuhan akan bisnis penyewaan tamu akan terus menguat. Seluruh acara akan lebih terasa seperti layaknya sebuah produksi acara di kapal pesiar dari apa yang orang amerika lakukan. Ada musik, sandiwara juga. Bahkan ada penyanyi solo yang dinyanyikan oleh pembawa acara pernikahan, yang sebenarnya juga adalah orang yang bukan kenalan. Dan semua lagu dan tari tersebut sebagai kemeriahan dari pasangan yang menikah. Kemegahan dan kepura-puraan mungkin aneh untuk bagi yang belum pernah melakukannya, namun ini adalah aturan main kami? seperti seorang veteran pernikahan Korea, duduk diam di belakang, dengan ekspresi kosong di wajahnya. 

Wah emosi muda, ternyata Korea tidak hanya dibanjiri dengan kecantikan dan ketampanan palsu hasil operasi plastik, namun malah lebih mengerikan dari sekedar wajah palsu. Hedonisme parah sudah menjangkiti masyarakatnya hingga suatu hubungan sosial seperti keluarga, kolega dan teman-temanpun bisa dipalsukan. Beruntung sekali kita yang tinggal dinusantara ini dimana budaya timur masih tersisa, walau perlahan-lahan mulai juga terkikis hedonisme kemajuan zaman yang mendidik orang-orang untuk egois. Mudah-mudahan nusantara ini tidak meniru langkah korea, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki tingkat jalinan sosial dengan memperpanjang tali silaturahmi seperti yang dianjurkan agama. Sehingga kita tidak perlu hidup dengan segala kepalsuan, Insha Allah. Terimakasih telah membaca artikel ini dan Wassalamualaikum. Image by; Elise Hu - NPR
Trims :)

G+

Seorang yang cukup gila dalam sisi lain kehidupan, yang jelas saya normal dan please jangan banyak protes :p, visit my FACEBOOK

Related Posts

Previous
Next Post »

Saya sangat mengharapkan feedback dari pembaca mengenai postingan yang saya tampilkan. Komentar yang anda tulis harap di ketik dengan bahasa yang sopan, apabila saran dalam bentuk kritikan adalah kritikan yang membangun. Tidak meninggalkan link aktif, spamming (I do hate that), ataupun komentar yang tidak berhubungan dengan postingan.