Sang Pencela Professional

Sang Pencela Professional
Halo emosi muda,. Assalamualaikum. Ucapan adalah sesuatu yang terbit dari fikiran yang dipicu oleh niat hati, merupakan komunikasi standar manusia untuk menyampaikan maksud dan tujuan, ada sangat banyak jenis bahasa dan metoda berkomunikasi dengan ucapan namun intinya tetap sama, yakni menyampaikan isi fikiran. Nah kali ini saya akan membahas tentang ucapan-ucapan super duper. Apaan itu ya? yang saya maksud super duper ini adalah tentang suatu budaya umum dalam masyarakat kita dalam mengucapkan "kutukan" atau istilah kerennya caci maki.

Semua orang tahu bahwa caci-maki adalah sesuatu yang tidak baik serta merupakan sesuatu yang kotor dari sejarah "penciptaan lidah manusia", namun caci-maki sangat populer dilakukan manusia sebagai pembenaran, ya,. mereka menganggap memaki merupakan satu hal yang terkadang "boleh dilakukan" demi menghukum sesuatu, sebagai justifikasi baik dari segi moral bahkan memaki atas nama Tuhan. Akan terdengar sangat munafik jika seseorang mengaku tidak pernah memaki, namun bukan hal itu yang akan kita bahas disini, saya akan membahas khususnya tentang caci-maki atas nama Tuhan.

Beberapa orang pemuda berkumpul serta membahas sesuatu, akan lazim terdengar caci-maki terhadap kawan-kawan karibnya sendiri dengan sebutan nama-nama hewan yang diharamkan. Mereka menganut faham bahwa sahabat sejati tidak akan marah jika dimaki. Beberapanya mungkin hanya sekedar ikut-ikutan biar terlihat "keren", dan beberapa lagi memang sudah ahlinya memaki. Saya pernah berteman dengan seseorang yang memang sangat jago dalam memaki. Dalam sehari dia bisa memaki hingga ratusan kali, bagi dia apapun itu yang membuat dia tidak suka atau bahkan sesuatu yang sangat menyenangkan dia, ya tetap saja dia maki. ada kucing lewat, dia maki. Kopi sudah dingin, dia maki. Bahkan saat saya silaturahmi kerumahnya setelah sekian lama tidak bertemu, karena saking senangnya dia melihat saya lantas dia langsung memaki-maki saya sambil tertawa.

Saya menjadi tidak heran dengan caci-maki, bahkan terkadang saya pun begitu jadinya. Namun sesuatu memang harus berubah, karena jelas kebiasaan memaki-maki adalah sesutau hal yang terlarang dan menunjukkan kelemahan mental pelakunya. Hanya saja terkadang saya tidak habis fikir jika para pelaku caci maki merupakan orang-orang yang khusus belajar moral dan agama. Seharusnya semua pendidikan itu membentuk kepribadian mereka menjadi seseorang yang berakhlak mulia, tapi anehnya mulut mereka bagaikan apa yang mereka sendiri sebutkan. Ya memaki-maki atas nama Tuhan demi sebagai sebuah pembenaran bahwa merekalah yang paling benar dari segala sesuatu kebenaran didunia ini, dengan dalih membela Tuhan, alhasilnya segala sebutan caci-maki paling kotor pun keluar seolah-olah itu adalah merupakan kewajiban, hal ini sering sekali terjadi.

Saya pernah menghadiri sebuah ceramah pada saat perayaan hari maulid nabi Muhammad (peace be on him). Nah dikala itu orang-orang setempat merasa bangga karena mereka telah menghadirkan seorang ustadz yang konon keluaran sebuah pasantren ternama, seorang penceramah ulung yang terkenal dimana-mana, sangat tinggi ilmu agamanya serta semua segala puji-pujian tentang kehebatan "sang ustadz" itu. Saya merasa penasaran dan akhirnya saya mengikuti dan mendengarkan acara ceramah maulid tersebut, namun yang ada akhirnya saya kecewa hihihiihi. Soalnya semua berita tentang kehebatan si ustadz tersebut bagi saya adalah non-sense alias bullshit, karena selama acara ceramah yang saya dengar adalah kata-kata "kutuk-laknat-maki". Si ustadz ceritanya ni selama dia berceramah, kemudian tiba-tiba ada beberapa orang gadis muda yang turut datang menghadiri acara itu, tapi sayangnya sang ustadz langsung menunjuk beberapa orang gadis yang dianggap cara berpakaiannya dianggap belum benar dan tanpa filter langsung memaki mereka dengan sebutan "Lonte" di depan orang ramai. Apakah tidak ada cara lain untuk menasehati para gadis itu hingga sang ustadz memaki mereka di tengah orang ramai? Apakah begitu yang diajarkan Rasulullah? Jangan mengaku Ahlus-Sunnah jika Sunnah itu sendiri anda tinggalkan.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertaubat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujarat [49]: 11)

Nah tidak hanya sampai disitu saja, sang ustadz juga memaki-maki para pejabat yang dianggap tidak benar, serta menggunakan nama hewan-hewan haram untuk memaki orang-orang yang dianggap ahli maksiat. Well intinya saya dengar sepanjang ceramah yang ada hanyalah caci dan maki.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ
“Dua orang yang saling mencela, maka dosa yang dikatakan keduanya akan ditanggung oleh orang yang pertama kali memulai, selama yang terzalimi tidak melampuai batas.” (HR Muslim)

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR Bukhari Muslim)

Akhirnya saya memutuskan pulang saja dengan hati kecewa, saya fikir sang ustadz sudah selevel K.H zainuddin MZ yang mampu memberi nasehat tanpa harus memaki-maki. Karena sepanjang yang saya ketahui belum pernah ada orang hebat manapun yang terkenal dengan ahli memaki. Pernahkah Rasulullah memberi nasehat dengan cara merendahkan?

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظَّاغَلِظَ اْلقَلْبِ لاٰنْفَضُّوْا مِنْ حَوِلِكَ
“Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali-Imran: 159)

Nah.. caci-maki atas nama Tuhan ini memang sangat santer terjadi belakangan ini. Sekelompok orang mungkin sangat fanatik dengan apa yang diyakininya hingga menafikan bahwa kebenaran itu sendiri adalah pada sisi Tuhannya hingga mencela habis-habisan terhadap orang-orang yang dianggap bukan golongannya. Kebenaran seperti apa yang bisa memicu mereka berbuat seperti itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebenaran versi yang mereka dengar dari guru-guru mereka, dan mengklaim kebenaran versi merekalah yang paling betul serta mengabaikan faktor si pemilik kebenaran itu sendiri. Mengandalkan fanatik sebagai landasan kebenaran sementara ada begitu luas ilmu yang ada dijagad raya ini yang secara keseluruhannya bertitik pada satu kunci, yakni kebenaran itu sendiri. Bagi orang yang berfikir, maka suatu kebenaran bukanlah dari apa yang dikultuskan, namun dari apa yang memberi bukti dan jalan yang memberi kebaikan. Tapi sayang pola pendidikan di negara ini sering mendoktrin bahwa kebenaran adalah versi guru dan bukan versi ILMU.

Di sisi lain sering juga kita mendengar laknat dan caci-maki orang tua kepada anak-anaknya, apakah mereka lupa bahwa kata-kata orang tua tidaklah tertolak untuk anaknya dimata Tuhan? Dan disaat kelak anak-anak mereka menjadi durhaka maka jangan hanya salahkan mereka, salahkan juga juga mulut orang tua yang mendoakan kecelakaan bagi anak-anaknya sendiri. Jika anak-anak pandai memaki tak lain dan tak bukan karena hal itu memang sudah sering dicontohkan dilingkungan mereka tinggal terutama dirumah.

"Sesungguhnya lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidaklah dia dicabut dari sesuatu itu kecuali akan memburukkannya". (H.R Imam Muslim)

Jangan anggap sepele dengan hobi suka memaki, karena apapun yang kita ucapkan kelak akan berefek terhadap diri kita sendiri. Menuduh orang lain sebagai anjing dan babi tidak akan mengubah keadaan, apalagi hingga menuduh ibu orang lain berzina, pastinya itu dosa yang sangat besar dan kelak akan sangat keras azab yang dirasa nanti di alam kubur. Menyampaikan sesuatu ada tempatnya, cara menyampaikan yang salah pasti hasilnya juga salah, percayalah kawan, sebenar apapun yang akan anda sampaikan melalui ucapan anda, dan jika cara penyampaian anda merendahkan orang lain, maka anda tidak akan pernah berhasil. Tidak ada itu memaki atas nama Tuhan kecuali bagi orang-orang yang belum memahami ilmunya sendiri. Lihatlah Rasulullah sebagai contoh teladan dalam menyampaikan sesuatu karena itu adalah jalan sunnah dan jalan kebenaran.

Saya sering menemui beberapa kasus tentang caci-maki di wall facebook, mulai dari perbedaan supporter sepak bola, beda suku, beda agama hingga berujung saling merendahkan dan saling caci-maki. Beberapa orang diantaranya merasa terhibur dengan mentertawakan orang lain yang dianggap bodoh, beberapanya kehilangan kesabaran hingga melaknat hingga tujuh keturunan dengan segala macam jenis nama hewan kotor serta improvisasinya. Apa yang bisa didapat dari semua itu? Tak ada..! Tak ada hasil dari semua itu melainkan kesenangan sesaat untuk bisa membuat orang lain terlihat tampak bodoh dan lahirnya kebencian dan memecah belah ikatan silaturahmi.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ (٤٣)فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ (٤٤)
(Allah berfirman) Pergilah kalian (Musa dan harun) kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut. Mudah mudahan dia sadar (atas kesalahannya) atau takut (kepada Allah). (Q.S Thaaha 43-44)

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Al-An'am : 108)

Ya demikianlah saudara-saudara artikel singkat saya kali ini. Mudah-mudahan menjadi nasehat bagi saya pribadi khususnya dan bagi kita semua pada umumnya. Saya yakin anda dapat mengambil kesimpulan dari isi tulisan ini untuk tidak lagi membudayakan caci-maki. "Tidak akan kosong satu hati melainkan akan di isi oleh hal lainnya". Maksudnya membiasakan sesuatu hal baik tentu akan menggantikan kebiasaan hal yang buruk. Semoga saja ya. Sekian, Terimakasih dan Wassalam.

"Addiinun naashihah”  Agama itu adalah nasehat." (H.R Imam Muslim)

G+

Seorang yang cukup gila dalam sisi lain kehidupan, yang jelas saya normal dan please jangan banyak protes :p, visit my FACEBOOK

Related Posts

Previous
Next Post »

Saya sangat mengharapkan feedback dari pembaca mengenai postingan yang saya tampilkan. Komentar yang anda tulis harap di ketik dengan bahasa yang sopan, apabila saran dalam bentuk kritikan adalah kritikan yang membangun. Tidak meninggalkan link aktif, spamming (I do hate that), ataupun komentar yang tidak berhubungan dengan postingan.