Old Woman Enterprise

nenek
Old Woman Enterprise

Aku mengiyakan saja dan menampilkan wajah cengengesan sambil mengaruk-garuk kepala yang serasa tidak gatal, cuma sekedar agar tidak terlihat bosan padahal dalam hati sudah tak tahan untuk segera beranjak dari tempat itu. Tapi apa daya nenek yang baru kukenal itu terus bercerita begini begitu mulai dari kisah cucunya yang kawin lari hingga buah pisang yang berbiji dan cara menggorengnya. Kalo aku langsung menyudahi dan pergi begitu saja rasanya sangat tidak etis ya terpaksalah aku terus mendengarnya.

“Alahai nek please kasi jeda dua detik buat aku minta pamit..,” Kataku dalam hati sembari membayangkan sebuah warung kopi di ujung jalan desa.

Namun telepati yang kukirimkan ke fikiran sinenek benar-benar tidak ampuh, entah karena antenna receiver telepati si nenek yang sudah tidak bisa bekerja atau memang aku saja yang sok-sokan merasa memiliki kemampuan lebih layaknya paranormal atau abnormal kali ya??  Lah sinenek malah makin bersemangat bercerita sampai pakai acara menunjukkan foto-foto lama yang sudah mulai tampak kusam dengan segala kisahnya. “Hihihihi ahaa aku punya akal,, :D. 

Aku akan pura-pura menyela sesaat buat minta izin ke kamar mandi dengan alasan kebelet trus begitu keluar dari kamar mandi maka langsung aku bilang pamitan.. sip dah ide yang mantap ni” Lagi-lagi aku berkata dalam hati buat menemukan cara pergi secepatnya dari sini ,sementara si nenek terus mengoceh dan aku cuma mengangguk-angguk sambil sesekali tersenyum padahal fikiranku sudah melanglang buana ke sebuah warkop untuk menikmati segelas kopi manis walau si nenek sudah menyiapkan secangkir teh yang rasanya pahit benar, mungkin kehabisan gula atau apalah. Fikirku.

“Nek.. maaf ya saya potong sebentar, saya mau ke kamar mandi sesaat” Ucapku sambil bergaya malu-malu kampret.

“Oh iya tak apa nak” Kata si nenek.

Sesampainya dikamar mandi aku cuma berdiri-diri menengok pepohonan kelapa yang melambai-lambai disekitar kamar mandi karena sebenarnya aku memang sedang tidak kebelet, ya maklumlah cuma mencari alasan saja, hmm kamar mandi dikampung ini kebanyakan tidak beratap..” Wah..!! Bahaya juga kamar mandi dikampung ini tidak beratap, ini bisa memicu pemuda-pemuda ngeres buat ngintip! Tinggal naik pohon kelapa trus ngintip dah!.. Jiah aku mikirin apa lah ni..?” Hadeuh lagipula siapa lagi yang mau ngintipin nenek-nenek? Ckckck ni gara-gara kawan ditinggalin aku sendiri disini alhasilnya aku jadi bosan dan entah apa-apa keluar dari fikiran tak jelas ni,, belum lagi aku terpaksa bohongi nenek itu cuma biar dapat alasan keluar dari tempat ini.. beuh kacau, kacau benar ni..” Selang sekitar dua menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berencana segera mengatakan pada nenek tersebut buat pamitan.. Hihhih si nenek tampak sedang mengunyah daun sirih. Nah ini saat yang tepat! 

“Aaaa... nek saya mau.........” Belum sempat kuselesaikan kata-kata buat minta izin pamit tapi si nenek langsung memotong pembicaraan -_-'.

Tanpa ba bi bu si nenek bilang barusan ayam-ayamnya dikejar biawak dan akhirnya aku terpaksa lagi mendengar tentang kisah-kisah biawak baik mitos gaibnya hingga kisah pendatang dari pulau jawa yang memakan daging biawak. “Beuh.. si Ibrahim dari tadi pergi belum baik-balik pun, katanya sebentar buat ambil kopi gilingan lah ini udah hampir satu jam belum balik juga, mana sepeda motor dibawa dia lagi,,” Aku ngomel terus dalam hati, sementara si nenek pun tak kalah ngomel, kali ini dia bercerita tentang sekawanan monyet-monyet liar yang sering mencuri buah rambutannya, lagi-lagi aku tak berkutik dihadapan seorang nenek-nenek, okelah nek aku menyerah saja -_-'.

Selanjutnya ya sudah aku ikuti saja alur omelan si nenek, dan kalau di fikir-fikir jika cerita sinenek ditulis diatas kertas sepertinya akan memecahkan rekor buku tertebal dan kisah terpanjang didunia dan bisa jadi jika cerita itu mesti ditulis dengan tulisan tangan sepertinya membutuhkan beberapa zuriat generasi untuk menyelesaikan semua cerita itu dan pastinya semua cerita itu tanpa jeda atau mungkin tanpa tanda koma atau tanda titik. Nah bayangin aja sendiri jika ada buku tebal yang tak punya tanda koma atau titik pastinya tidak akan berhenti dan ini bisa menyebabkan kematian bagi para pembaca yang memiliki ketimpangan psikologis atau apalah namanya alias panik bin sebal plus menyakitkan :'(

Dua jam berlalu sudah sementara temanpun belum balik lagi, di sisi lain si nenek masih mengoceh ini itu namun perlahan-lahan aku mulai menikmati ocehan si nenek, bisa jadi karena tak ada pilihan lain saat itu. Jika aku meninggalkan nenek itu begitu saja aku khawatir membuatnya tersinggung tapi disisi lain aku merasa penat. Ya tapi kini ocehan si nenek udah mulai agak nyambung dan mendingan karena si nenek bercerita tentang sejarah peperangan klasik tempo dulu antara asykar mujahidin aceh versus marsose hindia belanda, aku sempat berfikir si nenek ini kuat juga ingatannya. Kemudian aku mulai mengomentari cerita sinenek dan sinenek pun berusaha meluruskan ceritanya versi pengalaman dan asam garamnya dalam perjalanan hidupnya yang kini hampir berusia satu abad. Pembicaraan semakin seru dan menarik, ternyata si nenek ini sangat mendetil pengetahuan sejarahnya dan hal ini belum tentu dikuasai oleh orang-orang yang mengaku intelektual sejarah namun sering berdemo demi bayaran yang tak memadai. Tiba-tiba saja si nenek terdiam.. hmm mungkin dia sudah lelah bercerita, fikirku saat itu. Lantas aku memulai bertanya-tanya pada si nenek sekedar agar suasana tidak terasa hening terlebih lagi dirumah di tepi hutan dan kampung yang asing ini hehehe.

“Nek,, itu yang foto anak-anak nenek itu sekarang mereka dimana? Kok dari tadi tak kelihatan?” tanyaku.

“Ooh.. mereka semua sudah berkeluarga, ada yang sudah ke kota banda, ada yang di medan dan ada yang pergi ke malaysia sudah bertahun-tahun tak ada kabar” Kata nenek itu pelan.

“Jadi nenek disini tinggal sama siapa?”

“Nenek disini sendiri sejak suami nenek meninggal lima tahun yang lalu”

Sungguh jawaban nenek tersebut membuat hatiku terenyuh, tiba-tiba aku merasa iba dan kasihan terhadap nenek ini. Sekarang aku mengerti, wajarlah dia bercerita terus sejak kedatanganku tadi siang mungkin karena sudah begitu lama dia tidak ada yang mengunjungi, terlebih lagi rumahnya agak terasing di kampung ini. Nenek ini mengingatkan aku dengan nenekku sendiri dikampung -_-.

Suasana menjadi berubah,, aku mulai merasa simpati terhadap nenek ini.

Aku mulai berfikir jika begitu nenek ini makannya siapa yang menanggung?? Apa dia bekerja atau anak-anaknya mengirim uang padanya???

Seperti membaca fikiranku, si nenek bilang bahwa dia bekerja sebagai pembersih rumput di kebun-kebun milik beberapa penduduk di kampung ini. Kadang-kadang anak-anaknya sempat mengirimkan uang tetapi tidaklah rutin. Sebuah penjelasan yang menyentuh hati dari bibir seorang wanita yang lanjut usia.

“Bukkk...!!!” Sebuah kelapa tua jatuh dari dahannya. Sinenek segera keluar untuk mengutipnya. 

“Wah banyak juga buah kelapa disini nek ya?” Pertanyaan basa-basi ku terlontar

“ Iya nak.. tuh tengok sampai tua-tua sendiri didahan tak ada yang memanjatnya untuk buahnya dipetik, dulu semasa masih ada cucu saya disini dia yang sering memanjati pohon kelapa untuk memetik buahnya kemudian hasilnya dijual kepasar” Ujar si nenek sambil tersenyum.

“Ya sudah saya aja yang memanjatnya nek”

“Jangan nak nanti kamu bisa jatuh”

“Tak apalah nek.. saya sudah biasa” Kembali aku berbohong padahal aku sangat tak biasa memanjat pohon kelapa. Rasa simpatiku terhadap nenek ini mendorongku untuk membuatnya senang. Cuma itu saja.

Aku mulai menyingsingkan lengan baju dan mulai memanjat pohon kelapa dengan semangatnya, sementara sebilah parang kuselipkan dipinggang. Sedikit demi sedikit aku mulai menuju puncak pohon kelapa. Setibanya dipuncak pohon kelapa nafasku mulai ngos-ngosan, mungkin karena tak biasa saja. Padahal ini pohon pertama dan masih ada delapan pohon kelapa lagi yang buahnya menanti untuk dipetik, walaupun pohon-pohon kelapa disini tak begitu tinggi tapi tetap saja melelahkan -_-'.

Singkat cerita dengan memaksakan diri akhirnya aku telah memetik semua buah kelapa tua dari sembilan pohon kelapa dipekarangan rumah sinenek plus tiga buah kelapa muda untuk si nenek, aku dan si Ibrahim temanku. Badanku terasa gatal-gatal sekaligus dipenuhi peluh dan tanpa basa-basi lagi walaupun dalam keadaan lelah aku segera mengolah ketiga kelapa muda untuk menghilangkan dahaga sementara si nenek sedang mengutipi kelapa yang kupetik barusan. Aaaahh.. rasanya begitu segar ketika kuminum air kelapa muda yang rasanya memang sangat manis, dikejauhan kulihat Ibrahim sedang mengendarai sepeda motornya menuju ke arah kami. Namun dia tak langsung menemuiku namun menghentikan sepeda motornya di sebelah si nenek yang mengumpulkan buah kelapa. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti aku melihat Ibrahim menyerahkan sebuah amplop kepada sang nenek, tak lama kemudian...

“Sori wak.. Maaf udah nungguin lama, tadi aku ke tempat pamanku sebentar tapi tiba-tiba bocor ban, mana dikampung ini tak ada tukang tambal ban, ya terpaksa kudorong hingga ke pasar depan., capek mampus wak” Jelas si Ibrahim tanpa perlu kutanyakan lagi.

“Nyantai aja bro heheheh.. minum air kelapa kita yuk” Lantas tak lama kemudian kami bersama-sama menghabisi air kelapa yang sudah kusediakan tadi.

Singkat cerita saja selepas ashar hari mulai beranjak sore, aku menyelipkan dua lembar uang yang kuniatkan sedekah buat sinenek karena Ibrahim sudah bersiap-siap untuk segera pulang. Di sisa-sisa waktu yang ada aku mengamati rumah reot kecil yang mulai tampak lapuk milik nenek ini, dan bisa kubayangkan rasanya betapa sepinya rumah ini tanpa canda tawa keluarga konon lagi jika malam telah tiba. “Ah.. kasihan si nenek, mudah-mudahan anak-anaknya ada yang kembali untuk tinggal dan merawat nenek tua ini”. Kuakui bahwa nenek ini adalah pribadi yang tangguh, sanggup tinggal dalam kesendirian selama bertahun-tahun walau mungkin hati kecilnya sengsara dirundung kerinduan akan keluarga dan anak-anaknya. “Woi.. melamun terus.. yuk kita pulang!!” Panggil Ibrahim dengan gaya khasnya yang petentengan seolah-olah mafia kelas kakap ala yakuza jepang :p. Aku segera bangun dari dudukku kemudian mendatangi si nenek yang tepat berdiri didepan pintu rumahnya.

“Nek.. saya permisi dulu mau pulang” Kataku sembari menyalami tangan si nenek dan kuselipkan uang yang kusediakan tadi langsung ketangannya. Namun tak disangka aku mendapat respon tidak seperti yang kuharapkan, nenek tersebut menolak mentah-mentah uang yang kuberi.

“Jangan nak,. tidak usah! Nenek sudah dapat kiriman hari ini dari anak nenek yang dimedan” Sambil berucap demikian si nenek malah memberikan uang kepadaku.

“Ini ambillah.. ini upahmu memanjat pohon kelapa tadi”

“Wah..!!?! Jangan nek, tak usahlah, saya senang kok manjat pohon kelapa heheh” Baru sekali itu aku merasa benar-benar sangat malu alias tidak enak.

“Ambillah..!” Kata si nenek seraya hendak menyelipkan uang tersebut di kantong baju kemeja yang saya pakai. Aku langsung menghindar agar si nenek tidak jadi menyelipkan uang pemberiannya ke kantongku.

“Jangan nek.. tak usah,. saya ikhlas kok, swear nek!”  Aku terus berusaha menghindar tapi kali ini terjadi lagi hal yang mengejutkan. Tiba-tiba saja si nenek menangis!

“Ambillah nak..! itu upahmu, nenek tidak suka jika ada yang menolak pemberian nenek” Dia berkata sambil berlinangan airmata, sementara aku saling tatap dengan Ibrahim karena merasa tidak berdaya dihadapan seorang perempuan renta. “Alah hai gam.. kau ambil saja uang itu” Kata si Ibrahim kepadaku.

“Baiklah nek.. ini uang nenek kasi saya ambil, terimakasih ya nek” Ucapku sambil tersenyum.

“Nenek juga terimakasih banyak kalian sudah datang, lain kali main-mainlah kesini lagi ya nak” Kata nenek sambil menyeka airmata. Aku benar-benar malu semalu-malunya, bagaimana bisa pemuda yang masih sehat seperti aku menerima pemberian uang dari seorang perempuan tua renta..????

“Nek.. saya mohon maaf ya nek, tadi saya bohongi nenek” Entah kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja dariku.

Dengan wajah dipenuhi pertanyaan,nenek itu menjawab “Bohongi apa maksudnya nak?”

“Tadi saya hanya pura-pura kekamar mandi, sebenarnya karena saya bosan dengan cerita nenek” Aku mengakui dengan kepala tertunduk, jarang-jarang aku mau mengaku seperti ini, jika bukan rasa iba dan simpatiku yang besar pada nenek ini tentulah mungkin lain lagi ceritanya.

Mendengar pengakuanku sinenek tidak berkata apa-apa lagi melainkan ia mendatangiku dan memelukku, kembali lagi airmatanya jatuh berlinangan.

“Baru kali ini ada yang bosan dengan cerita nenek tapi mengakuinya dengan jujur” ( :3 Baru kali ini juga ada yang bilang saya orang jujur :3 )

“Maaf nek.. saya merasa tidak enak”

“Tak apalah nak, sudah nenek maafkan” Kata nenek sambil melepaskan pelukannya.

“Nah,, sekarang pulanglah nak sebentar lagi senja, mudah-mudahan anak selamat di perjalanan dunia akhirat.. Krue seumangat, Shalli wassallim ala sayyidina muhammad” 

“Amin.. makasih nek, kami pulang ya” Si nenek tersenyum dan aku dan Ibrahim pun meninggalkan nenek tersebut.

Berselang sekitar 100 meter dari rumah nenek tersebut aku mulai bertanya pada temanku tentang sosok perempuan tua itu, “Him..! Nenek itu sebenarnya siapa?” Tanyaku sambil menepuk bahu Ibrahim yang sedang mengendarai sepeda motor. “ Ooh.. itu kenalan bapak saya, bapak saya sering mengirimi nenek itu uang karena kasihan dia hidup sendiri, ya seperti yang kau lihat tadi aku beri dalam amplop”

“Lah..? Bukannya itu kiriman dari anaknya yang di medan??” Tanyaku penasaran

“Bukan wak.. itu dari bapakku, bapakku bilang jika ditanya nenek itu tentang uang yang di dalam amplop bilang saja dari anaknya yang di medan, soalnya wak, nenek itu pasti menolak jika nenek itu tahu bahwa itu uang bukan dari anaknya”

“Hmm.. wah ayahmu pemurah juga ya, buatku ada tak kiriman? Hehehe” 

“Untuk kau..??? Oooh ada! Tapi ambilnya dikantor polisi” Jawab Ibrahim ketus.

“Ahahaha.. eits, stop.. stop berhenti sebentar di depan anak-anak itu” Kataku pada Ibrahim, aku melihat dua orang anak laki-laki berusia kisaran 12 tahun sedang berjalan bareng. 

“Hey.. dek, kalian mau uang gak??”

“Hehehe.. mau lah bang. Mana?” Serempak sangat menjawabnya -_-'

“Nah ini untuk kalian berdua, dan yang ini kalian kasi ke nenek yang rumahnya diujung itu”

“Oke pak boss hehehe!!”( Boss dari hongkong??? ) 

“Ingat ya adek-adek kalian kasi sama nenek itu, trus kalo dia tanya-tanya, bilang saja sedekah dari hamba Allah oke??? “

“Sip pak boss..! makasih ya.. hehehe” Kata anak-anak itu senang lalu berlarian menuju rumah si nenek, aku hanya ingin mengembalikan uang si nenek plus uang yang sudah kuniatkan sedekah.

“Yuk wak,, udah hampir telat kita” Sela Ibrahim 

“Oke bro..! Tancap kita.” 

Diperjalanan, aku berfikir bahwa hari ini memang unik, terkadang taqdir membawakan kita pada sesuatu yang terlihat tak nyaman namun justru disitu terdapat hikmah yang hanya didapat dari pengalaman yang tak terulang kedua kalinya.

*Real conversation was in acehness.  
 

Ahmad Raj.
Trims :)

G+

Seorang yang cukup gila dalam sisi lain kehidupan, yang jelas saya normal dan please jangan banyak protes :p, visit my FACEBOOK

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

comments
15 Agustus 2016 13.39 delete

sip bang....
pandai sekali rangkai katanya...
tp itu ga cuma di aceh aja bang... di sini juga banyak...
jadi orang sukses yuk bang...
biar kita bisa bantu dan jaga mereka...

Reply
avatar

Saya sangat mengharapkan feedback dari pembaca mengenai postingan yang saya tampilkan. Komentar yang anda tulis harap di ketik dengan bahasa yang sopan, apabila saran dalam bentuk kritikan adalah kritikan yang membangun. Tidak meninggalkan link aktif, spamming (I do hate that), ataupun komentar yang tidak berhubungan dengan postingan.